BANTAENGNEWS.COM — Di bawah langit pagi yang teduh, upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2026 berlangsung khidmat di Halaman Kantor Bupati Bantaeng, Sabtu, 2 Mei 2026. Bupati Bantaeng, Muh. Fathul Fauzy Nurdin, berdiri di hadapan peserta upacara, menyampaikan pesan tentang pentingnya pendidikan sebagai fondasi masa depan.
Tema tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” menggema sebagai ajakan bagi semua pihak pemerintah, sekolah, dan masyarakat, untuk bergandengan tangan menghadirkan pendidikan yang adil dan berkualitas.
Namun, di balik barisan rapi peserta upacara dan lantunan amanat yang penuh harapan, terselip kisah sunyi yang menggugah nurani.
Seorang guru agama di SD Inpres Panjang, yang selama ini mengabdikan hidupnya untuk mendidik anak-anak, justru tengah menghadapi kenyataan pahit oleh pembangunan gedung SPPG. Rumah dinas yang selama ini menjadi tempat bernaungnya harus tergusur. Ia kehilangan bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang sederhana yang selama ini menjadi saksi pengabdiannya.
Ironi itu semakin terasa ketika terungkap adanya perbedaan koordinat lokasi pembangunan SPPG, antara data yang dilaporkan dengan kondisi di lapangan. Koordinator Kecamatan BGN Tompobulu, Ilham, menyebut selisih lokasi mencapai sekitar satu kilometer, sebuah angka yang mungkin tampak kecil di atas peta, namun berdampak besar dalam kehidupan nyata.
Kini, sang guru harus menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer setiap hari demi tetap hadir di depan kelas. Jalan yang dilalui bukan sekadar jarak, tetapi juga ujian ketulusan dan dedikasi.
Di saat banyak orang berbicara tentang kualitas pendidikan, ia justru membuktikannya lewat langkah-langkah sederhana, datang mengajar meski lelah, tetap tersenyum di hadapan murid-muridnya, dan terus menyalakan cahaya ilmu di tengah keterbatasan.
Hardiknas seharusnya bukan hanya seremoni tahunan. Ia adalah momen untuk menengok kembali: sudahkah kita benar-benar memuliakan guru? Sudahkah pendidikan kita berdiri di atas keadilan, bukan sekadar slogan?
Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang gedung megah atau kurikulum yang sempurna. Pendidikan hidup dari ketulusan para guru—mereka yang tetap berdiri di depan kelas, bahkan ketika kehidupan tak selalu berpihak.
Di Bantaeng, hari ini, kita belajar satu hal penting: bahwa di balik setiap anak yang bermimpi, ada guru yang diam-diam berjuang. Dan di balik setiap peringatan Hardiknas, ada harapan agar pengabdian mereka tidak lagi berjalan sendirian.












