BANTAENGNEWS.COM — Di tengah dinamika politik daerah, kehadiran perempuan di parlemen menjadi bagian penting dalam mendorong lahirnya kebijakan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di Kabupaten Bantaeng, salah satu sosok yang cukup menonjol adalah Anggota DPRD Bantaeng dari Partai NasDem, Hasriani, atau yang akrab disapa Tenri.
Sebagai legislator yang bertugas di Komisi C DPRD Bantaeng, Tenri dikenal aktif menyuarakan berbagai isu sosial, perlindungan generasi muda, hingga pengawasan terhadap pelaksanaan program pemerintah daerah. Sikapnya yang responsif terhadap aspirasi warga membuat namanya kerap dikaitkan dengan berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat.
Di balik kiprahnya sebagai wakil rakyat, Tenri juga dikenal sebagai putri dari salah satu tokoh masyarakat Bantaeng yang cukup disegani, H. Hengki Ahmad atau yang akrab disapa H. Sila. Sosok sang ayah disebut menjadi figur yang banyak memberi arahan, nasihat, serta pandangan dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya di ruang publik.
Tenri menilai keberadaan perempuan di dunia politik bukan sekadar melengkapi representasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menghadirkan perspektif yang lebih dekat dengan persoalan keluarga, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
“Saya percaya tugas sebagai anggota DPRD bukan hanya hadir dalam rapat, tetapi memastikan suara masyarakat benar-benar sampai dan diperjuangkan dalam kebijakan,” ujar Tenri, Sabtu (24/5/2026).
Perhatian Tenri terhadap persoalan sosial terlihat dari sikapnya terhadap ancaman penyalahgunaan narkoba yang dinilai mulai menyasar lingkungan pendidikan. Menyikapi laporan masyarakat terkait dugaan aktivitas peredaran narkoba di sekolah menengah, ia mendorong pemerintah daerah bersama pihak terkait untuk mengambil langkah pencegahan melalui tes urine massal bagi pelajar.
Menurutnya, perlindungan terhadap generasi muda harus menjadi prioritas bersama.
“Anak-anak kita adalah masa depan Bantaeng. Sekolah harus menjadi ruang yang aman, sehat, dan terbebas dari ancaman narkoba. Pencegahan harus dilakukan sejak dini,” katanya.
Tidak hanya menyoroti persoalan sosial, Tenri juga dikenal vokal dalam menjalankan fungsi pengawasan anggaran. Dalam pembahasan di Komisi C DPRD Bantaeng, ia pernah menyoroti sejumlah program yang dinilai perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Salah satu yang sempat menjadi perhatian adalah proyek pemasangan lampu hias di sejumlah titik yang menurutnya perlu dikaji berdasarkan kebutuhan prioritas daerah.
“Setiap rupiah dari APBD harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kita ingin anggaran daerah benar-benar menjawab kebutuhan warga,” ungkapnya.
Perhatian Tenri juga tertuju pada persoalan data kemiskinan dan kondisi ekonomi masyarakat. Ia mendorong agar proses pendataan dilakukan secara lebih akurat dan melibatkan pemerintah hingga tingkat bawah agar kebijakan bantuan sosial tidak meleset dari sasaran.
Menurutnya, data yang valid menjadi fondasi penting dalam pengambilan keputusan pemerintah.
“Kalau data tidak sesuai kondisi lapangan, maka program yang dibuat juga berisiko tidak tepat sasaran. Karena itu perlu kolaborasi semua pihak, termasuk pemerintah desa dan lingkungan,” ujarnya.
Komitmennya terhadap aspirasi publik juga terlihat di luar ruang rapat. Dalam sejumlah momentum penyampaian aspirasi masyarakat di DPRD Bantaeng, Tenri tercatat ikut membuka ruang dialog dan mendengarkan langsung masukan dari warga.
Bagi Tenri, membangun komunikasi dengan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai wakil rakyat.
“Kehadiran kami di DPRD harus memberi manfaat dan menjadi jembatan antara kebutuhan masyarakat dengan kebijakan pemerintah,” tutupnya.












