BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG — Sebuah video yang beredar di media sosial dan memperlihatkan dugaan gestur tidak pantas saat rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Bantaeng menuai sorotan.
Dalam video tersebut, terlihat seorang pria yang disebut berinisial R diduga mengacungkan jari tengah ke arah kamera ketika suasana pengibaran Sang Saka Merah Putih berlangsung. Gestur tersebut menjadi sorotan lantaran muncul dalam momentum yang semestinya berlangsung khidmat dan penuh penghormatan terhadap simbol negara.
Ketua Forum Jurnalis Republik Indonesia (FJRI) Bantaeng, Derra, menyayangkan dugaan gestur tersebut. Ia menilai momentum peringatan kemerdekaan semestinya menjadi ruang untuk menunjukkan rasa hormat terhadap perjuangan bangsa dan nilai-nilai kebangsaan.
“Kami sangat menyayangkan. Di saat rakyat, pelajar, dan ASN berdiri tegak menghormat bendera, justru ada gestur yang bertentangan dengan nilai-nilai itu. Ini bukan soal pribadi, ini soal etika publik dan marwah pemerintahan,” ujar Derra kepada awak media, Selasa (19/8/2026).
Menurut Derra, persoalan tersebut tidak boleh dipandang sebagai hal sepele apabila video yang beredar memang menunjukkan kejadian sebagaimana dipersepsikan publik.
Ia juga mempertanyakan belum adanya klarifikasi resmi dari pihak yang disebut-sebut dalam video maupun pihak pemerintah daerah.
“Sampai hari ini belum ada klarifikasi maupun sikap resmi. Seolah ini hal biasa. Padahal ini menyangkut teladan. Jika benar sosok tersebut adalah pejabat publik yang abai pada etika di momen kenegaraan, bagaimana pesan kebangsaan sampai ke masyarakat?” tegasnya.
FJRI Bantaeng menilai pejabat maupun pihak yang berada dalam lingkungan pemerintahan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga sikap, terlebih ketika berada dalam kegiatan resmi kenegaraan.
Momentum pengibaran Merah Putih, kata Derra, bukan sekadar seremoni tahunan. Di dalamnya terdapat penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa dan pengorbanan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Karena itu, FJRI Bantaeng meminta pihak terkait memberikan klarifikasi secara terbuka agar polemik yang berkembang di tengah masyarakat tidak menimbulkan berbagai spekulasi.
FJRI juga menegaskan bahwa kritik tersebut tidak diarahkan untuk menghakimi seseorang sebelum fakta dan konteks kejadian dipastikan.
“Kami cinta Bantaeng. Karena cinta itulah kami bersuara. Kemerdekaan ke-81 ini harus diisi dengan karya, prestasi, dan etika. Bukan dengan sikap yang mencederai,” tutup Derra.
Bagi FJRI Bantaeng, menjaga kehormatan kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengibarkan Merah Putih. Sikap, ucapan, dan perilaku setiap orang di ruang publik juga menjadi bagian dari cara menghormati perjuangan para pendahulu bangsa.













