BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG, SULAWESI SELATAN — Sejumlah petani rumput laut di Kelurahan Lamalaka, Kabupaten Bantaeng, mengalami kerugian setelah aktivitas gempa yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sekitar pukul 06.00 WITA, memicu perubahan kondisi air laut secara tiba-tiba.
Perubahan tersebut dilaporkan berdampak pada sejumlah lokasi budidaya rumput laut di sepanjang pesisir Bantaeng. Tidak hanya merusak bentangan budidaya, kondisi tersebut juga menyebabkan rumput laut yang baru diturunkan untuk dibudidayakan mengalami kerusakan.
Salah seorang petani rumput laut, Saenal, warga Kampung Pabineang, Kelurahan Lamalaka, mengaku mengalami kerugian cukup besar akibat kerusakan tersebut. Selasa, 18 Agustus 2026
“Kerusakan yang diakibatkan gempa NTT itu tidak hanya menghancurkan lokasi kami, tetapi juga merusak rumput laut dan bentangan yang bibitnya baru saja kami turunkan,” ujar Saenal.
Menurutnya, kerugian yang dialami petani tidak hanya berasal dari hilangnya bibit rumput laut, tetapi juga kerusakan berbagai perlengkapan budidaya. Petani harus kembali mengeluarkan biaya untuk memperbaiki lokasi agar dapat digunakan kembali.
“Selain kerusakan bibit dan bentangan, kami harus mencari uang lagi untuk memperbaiki lokasi. Itu juga membutuhkan waktu karena harus membeli tali pematang, tali jangkar, karung untuk jangkar, serta tali pengikat bentangan,” katanya.
Kondisi tersebut dinilai semakin membebani petani karena aktivitas budidaya rumput laut merupakan salah satu sumber penghasilan masyarakat pesisir. Kerusakan fasilitas dan bibit membuat petani harus menanggung biaya tambahan sekaligus kehilangan potensi hasil panen.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPC HNSI Bantaeng, Aidil Adha , meminta Pemerintah Kabupaten Bantaeng memberikan perhatian terhadap masyarakat yang terdampak kerusakan lokasi budidaya rumput laut.
Aidil mengatakan, dampak gempa yang terjadi di NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dirasakan hingga wilayah pesisir Bantaeng dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah lokasi budidaya rumput laut masyarakat.
“Kami meminta pemerintah Bantaeng punya perhatian terhadap korban kerusakan lokasi dan rumput laut yang sangat merugikan masyarakat,” kata Aidil.
Ia juga berharap DPRD Kabupaten Bantaeng dapat melihat dan mendengar langsung keluhan masyarakat yang terdampak. Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat langkah konkret dari pemerintah daerah maupun DPRD Bantaeng dalam menyikapi kerusakan yang dialami para petani.
“Saya juga berharap DPRD Bantaeng melihat dan mendengar keluh kesah masyarakat korban. Sejak terjadinya gempa ini belum terlihat sikap pemerintah kabupaten maupun pemerintah setempat, terlebih DPRD Bantaeng, untuk menyikapi persoalan tersebut,” ujarnya.
Aidil berharap pemerintah dapat segera melakukan pendataan terhadap lokasi budidaya yang mengalami kerusakan serta mencari solusi untuk membantu meringankan beban para petani.
“Kami berharap ada solusi dari pemerintah yang bisa membantu meringankan beban korban. Pemerintah tidak bisa tinggal diam saat warganya membutuhkan. Justru kondisi seperti ini yang seharusnya mewajibkan pemerintah hadir, bukan hanya pada saat kegiatan seremonial saja,” tegasnya.
Para petani berharap pemerintah segera turun ke lapangan untuk memastikan tingkat kerusakan sekaligus memberikan perhatian dan bantuan yang diperlukan agar aktivitas budidaya rumput laut dapat kembali berjalan.













