BANTAENGNEWS.COM- BANTAENG – Peran penyuluh pertanian kembali menjadi perhatian dalam diskursus pembangunan sektor pangan nasional. Di tengah tuntutan modernisasi pertanian, digitalisasi layanan publik, serta tantangan perubahan iklim, penyuluh dinilai memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara inovasi teknologi dan praktik usaha tani di lapangan. Sabtu, 4 Juli 2026
Secara konseptual, penyuluhan pertanian berlandaskan pada prinsip Better Farming, Better Business, dan Better Living. Prinsip ini menempatkan penyuluh sebagai agen perubahan yang bertugas meningkatkan kapasitas, kemandirian, dan kesejahteraan petani melalui pendidikan lapangan yang berkelanjutan.
Dalam catatan perkembangan satu dekade terakhir, terjadi perubahan pola kerja penyuluh. Pada periode 2010–2015, penyuluhan masih didominasi pendampingan teknis langsung di lapangan. Memasuki 2016–2020, sistem pelaporan mulai terdigitalisasi. Sementara pada periode 2021–2026, beban administrasi berbasis aplikasi semakin meningkat di sejumlah daerah, yang berdampak pada berkurangnya intensitas interaksi langsung dengan petani.
Pemerhati penyuluhan pertanian, Andi Kaimal Achmad, dalam catatannya menilai bahwa penyuluh perlu kembali diperkuat sebagai aktor utama perubahan di sektor pertanian, bukan semata pelaksana administratif program.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh sarana produksi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu mengelola pengetahuan dan teknologi secara mandiri di tingkat petani.
“Penyuluh adalah ujung tombak perubahan di sektor pertanian. Ketika mereka kembali fokus pada pendampingan lapangan, maka transformasi petani akan terjadi lebih cepat dan lebih nyata,” ujarnya.
Menurutnya, jika dibandingkan dengan periode 2010–2015, ruang interaksi penyuluh dengan petani saat itu relatif lebih intens karena belum terbebani sistem pelaporan digital yang kompleks. Namun pada periode 2021–2026, waktu kerja penyuluh di banyak daerah lebih banyak terserap pada aktivitas administratif dan input data.
Sejumlah kajian pembangunan pertanian menunjukkan bahwa intensitas pendampingan langsung memiliki korelasi positif terhadap tingkat adopsi inovasi oleh petani. Dalam berbagai studi periode 2015–2023, petani yang mendapatkan pendampingan rutin cenderung lebih cepat mengadopsi teknologi budidaya, manajemen usaha tani, hingga adaptasi perubahan iklim.
Dalam konteks tersebut, reformasi sistem penyuluhan dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Digitalisasi pelaporan diharapkan tidak hanya menjadi beban administratif, tetapi juga alat bantu yang mempermudah kerja penyuluh di lapangan.
“Jika ruang kerja penyuluh dikembalikan pada fungsi utamanya di lapangan, maka mereka akan menjadi motor inspirasi bagi petani. Dari sana akan lahir kemandirian, inovasi, dan perubahan nyata,” tambah Andi Kaimal Achmad.
Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong penguatan kelembagaan penyuluhan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, integrasi sistem digital, serta penguatan program pendampingan petani. Namun tantangan seperti rasio penyuluh dan petani yang belum ideal serta keterbatasan sarana kerja masih menjadi pekerjaan rumah yang berkelanjutan.
Data Komisi IV DPR RI sebelumnya menunjukkan bahwa rasio penyuluh terhadap petani masih berada pada kisaran 1:1.600, sementara kondisi ideal diperkirakan sekitar 1:500. Ketimpangan ini turut mempengaruhi efektivitas pendampingan di lapangan.
Meski demikian, sejumlah penyuluh di berbagai daerah tetap menunjukkan dedikasi tinggi dalam mendampingi petani, termasuk di wilayah dengan keterbatasan fasilitas dan beban kerja administratif yang tinggi.
Dengan berbagai dinamika tersebut, penyuluhan pertanian tetap dipandang sebagai salah satu pilar utama transformasi sektor pangan nasional. Keseimbangan antara efisiensi sistem, penguatan kapasitas manusia, dan keberpihakan pada petani menjadi kunci dalam mewujudkan pertanian yang modern, adaptif, dan berdaya saing.
Pada akhirnya, catatan Andi Kaimal Achmad menegaskan satu hal penting: masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan program, tetapi oleh manusia yang hadir, mendampingi, dan memastikan pengetahuan benar-benar sampai serta bermanfaat bagi petani di lapangan.













