BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG – Rencana dialog terbuka antara Direktur Utama Perseroda Kabupaten Bantaeng, Muh. Iqbal Nur, dengan awak media dan lembaga sosial kontrol kembali menjadi sorotan setelah agenda yang sebelumnya telah dijadwalkan pada Jumat sore, 10 Juli 2026, batal terlaksana.
Pertemuan tersebut sejatinya direncanakan sebagai ruang klarifikasi dan dialog terbuka setelah mencuatnya serangkaian pemberitaan mengenai Perseroda Kabupaten Bantaeng. Polemik bermula dari laporan mengenai dugaan proyek yang disebut sebagai “proyek siluman”, yang kemudian dibantah dan diklarifikasi oleh pihak Perseroda.
Namun, pascaklarifikasi tersebut, polemik justru semakin berkembang. Salah seorang pihak dari Perseroda disebut-sebut mencatut nama Ketua Pemuda LIRA Kabupaten Bantaeng dan bahkan menyatakan kesiapannya untuk berhadapan secara langsung dalam rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Bantaeng.
Rencana pertemuan itu juga diharapkan menjadi forum untuk membuka berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik, termasuk pembahasan mengenai kondisi keuangan Perseroda pada masa transisi dari Perseroda lama menuju Perseroda baru. Dalam isu yang berkembang, kas perusahaan disebut hanya menyisakan sekitar Rp500 ribu.
Informasi tersebut menjadi salah satu materi yang diharapkan dapat dijelaskan secara terbuka oleh manajemen Perseroda agar tidak terus memunculkan spekulasi di tengah masyarakat.
Sebelumnya, Dirut Perseroda Bantaeng, Muh. Iqbal Nur, melalui pesan WhatsApp kepada awak media menyampaikan bahwa dirinya sedang menjalankan agenda presentasi dengan calon mitra kerja sama di Jakarta.
“Sorry bro, 2 hari saya full presentasi dengan calon mitra kerja sama Perseroda di JKT. Saya baru ke Makassar tanggal 7,” tulis Muh. Iqbal Nur.
Dalam komunikasi tersebut, Muh. Iqbal Nur juga menyampaikan niat membuka ruang dialog bersama organisasi kepemudaan, LSM, dan insan pers untuk membahas masukan, saran, serta peluang kerja sama pengembangan Perseroda.
“Kami memang sudah berencana mengundang teman-teman OKP, LSM, jurnalis untuk ngopi bareng Perseroda, diskusi santai meminta saran, masukan serta persiapan kolaborasi bisnis bersama,” tulisnya.
Bahkan, terkait waktu pelaksanaan, Dirut Perseroda sendiri menyampaikan usulan jadwal pertemuan.
“Bagusnya Jumat sore kayaknya yah, biar bisa diskusi lama toh,” tulis Muh. Iqbal Nur.
Namun, ketika hari yang dijanjikan tiba, kepastian pertemuan justru tidak diperoleh. Sekitar pukul 15.30 WITA pada Jumat, 10 Juli 2026, awak media kembali mencoba mengonfirmasi langsung kepada Dirut Perseroda melalui pesan WhatsApp terkait kepastian agenda tersebut.
Namun, hingga waktu yang ditunggu, pesan tersebut tidak mendapatkan tanggapan. Awak media kemudian menghubungi Humas Perseroda Bantaeng, Aidil Akbar, untuk meminta kejelasan mengenai agenda yang sebelumnya telah disampaikan.
Pihak Humas Perseroda Bantaeng kemudian menyampaikan bahwa pertemuan tersebut harus ditunda karena Dirut Perseroda memiliki agenda di luar kota.
“Diundur kak, karena Pak Dir ada kegiatan di luar kota. Nanti saya info jaki itu kak. Agendanya tiba-tiba kak, dan tidak bisa ditinggal,” ujar Aidil Akbar melalui pesan WhatsApp.
Aidil Akbar juga menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan informasi kepada pihak yang telah menunggu agenda tersebut.
“Mohon maaf kami lupa mengabari kak, dan agendanya pun tiba-tiba,” tulisnya.
Meski telah diberikan penjelasan oleh pihak Humas Perseroda, pembatalan yang disampaikan mendekati waktu pelaksanaan tersebut tetap menuai kekecewaan dari sejumlah awak media yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri agenda tersebut.
Ketua Pemuda LIRA Kabupaten Bantaeng, Andi Yusdanar Hakim, menilai persoalan tersebut bukan hanya sekadar batalnya sebuah pertemuan, tetapi menyangkut persoalan komitmen seorang pimpinan badan usaha milik daerah dalam membangun komunikasi dengan publik.
“Kalau seperti ini, apa yang saya bilang sebelumnya, Dirut Perseroda pembohong. Dia sendiri yang memberikan jadwal kepada teman-teman media, tetapi justru tidak menepati janji,” tegas Yusdanar.
Menurutnya, pejabat publik maupun pimpinan BUMD harus mampu menjaga kepercayaan publik melalui komunikasi yang terbuka dan bertanggung jawab.
“Seharusnya sehari sebelum sudah ada pemberitahuan. Jangan sampai teman-teman media dan masyarakat hanya diberikan harapan, lalu ketika waktunya tiba justru tidak ada kepastian,” ujarnya.
Yusdanar menegaskan bahwa dirinya sebagai lembaga sosial kontrol tidak menutup ruang komunikasi dengan Perseroda. Bahkan, ia sebelumnya menyerahkan kepada rekan-rekan media untuk menghadiri agenda tersebut sebagai bentuk penghargaan terhadap ruang dialog yang telah dibuka.
“Jangan hanya memberikan janji komunikasi untuk meredam situasi, tetapi ketika waktunya tiba tidak ada kepastian. Publik tentu akan menilai sendiri bagaimana sebuah komitmen dijalankan,” katanya.
Hingga berita ini diterbitkan, Dirut Perseroda Bantaeng Muh. Iqbal Nur belum memberikan klarifikasi langsung terkait alasan penundaan agenda tersebut maupun kepastian jadwal pengganti.
Kini perhatian publik tertuju pada komitmen Perseroda Bantaeng: apakah ruang dialog yang telah dijanjikan akan benar-benar diwujudkan secara terbuka, atau kembali menjadi sekadar wacana tanpa kepastian.













