BANTAENGNEWS.COM — Gaya kepemimpinan terbuka tanpa sekat ditunjukkan Mahyuddin dalam memimpin Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, di Provinsi Sulawesi Selatan. Meski tergolong muda untuk jabatan kepala dinas, ia dinilai mampu membangun semangat dan etos kerja di lingkungan organisasinya.
Dalam wawancara eksklusif pada 30 April 2026, Mahyuddin mengungkapkan bahwa prinsip kepemimpinannya berangkat dari nilai-nilai yang diajarkan orang tuanya. Ia menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan siapa pun, baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja, sebagai dasar membangun tim yang solid.
Menurutnya, kepala dinas tidak hanya berperan sebagai pengambil kebijakan, tetapi juga sebagai pemimpin yang harus menjunjung tinggi keadilan, bersikap bijak, serta mampu membaca dinamika organisasi.
“Seorang pemimpin harus adil, bijak dalam mengambil keputusan, dan cerdas melihat kondisi organisasi. Dengan begitu, setiap kebijakan bisa diterima dan dijalankan dengan baik,” ujarnya (30/4/2026).
Mahyuddin juga menyoroti pentingnya penempatan pegawai yang tepat sesuai karakter dan kebutuhan bidang kerja. Ia menilai, kesesuaian tersebut dapat meningkatkan kenyamanan sekaligus efektivitas kerja.
“Misalnya pada bidang yang didominasi perempuan, saya menempatkan kepala bidang perempuan. Itu bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman dan produktif,” jelasnya.
Dalam mengelola pegawai dengan latar belakang dan karakter yang beragam, Mahyuddin memilih pendekatan adaptif. Ia berupaya memastikan setiap pegawai memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas.
“Pegawai di Dinas Pertanian memiliki karakter yang berbeda-beda. Mungkin saya tidak bisa memahami semuanya secara mendalam, tetapi saya berusaha menempatkan mereka sesuai bidangnya. Saya yakin tidak ada ASN yang malas, yang ada mereka belum diberi ruang atau tugas yang tepat,” katanya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan dalam hubungan kerja. Menurutnya, suasana kerja yang baik akan memudahkan penyelesaian berbagai kendala di lapangan.
“Seorang pemimpin harus mampu menahan ego sektoral. Jangan karena merasa sebagai kepala dinas lalu memerintah seenaknya. Pegawai juga memiliki martabat, sehingga pemimpin harus bisa menjadi figur yang mengayomi, layaknya orang tua,” tambahnya.
Meski menyadari tidak semua kebijakan akan diterima oleh semua pihak, Mahyuddin menegaskan bahwa setiap keputusan yang diambil selalu berorientasi pada kepentingan organisasi.
“Perbedaan pendapat itu hal yang wajar. Namun, setiap keputusan yang saya ambil tentu untuk kemaslahatan dan kemajuan Dinas Pertanian,” tutupnya.
Gaya kepemimpinan yang mengedepankan keterbukaan, keadilan, dan penghargaan terhadap pegawai ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi kepala dinas lainnya dalam membangun birokrasi yang lebih humanis dan produktif.












