Mohon Perhatian
Wartawan dan Crew Media Online BantaengNews.com tidak menerima imbalan apapun dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pewarta serta dalam menjalankan tugas-tugasnya dilindungi oleh Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999

Menghidupkan Kembali Spirit Kejayaan Bantaeng dari Jejak Peradaban Masa Lampau

BANTAENGNEWS.COM – Matahari siang menyinari hamparan pesisir dan perbukitan Bantaeng yang membentang dari laut hingga pegunungan. Di balik geliat pembangunan yang terus berlangsung, daerah di ujung selatan Sulawesi Selatan ini menyimpan cerita panjang tentang kejayaan masa lampau yang pernah mengukir namanya dalam sejarah Nusantara.

Tidak banyak yang menyadari bahwa Bantaeng, yang dahulu dikenal dengan nama Bantayang, pernah menjadi salah satu kawasan penting dalam jaringan perdagangan, pemerintahan, dan kebudayaan di wilayah timur Indonesia. Jejak-jejak itu masih tersimpan dalam berbagai catatan sejarah, tradisi masyarakat, hingga warisan budaya yang bertahan melintasi zaman.

Bagi Ketua Pemuda LIRA Bantaeng, Andi Yusdanar Hakim, sejarah tersebut bukan sekadar kisah masa lalu yang layak dikenang, melainkan sumber energi yang dapat menjadi pijakan untuk membangun masa depan daerah.

Menurutnya, Bantaeng lahir dari peradaban yang kuat. Daerah ini pernah dikenal karena kepemimpinan para raja dan pemangku adat yang mengedepankan kesejahteraan rakyat, menjaga harmoni sosial, serta membangun tata kehidupan yang berpihak kepada masyarakat.

“Bantaeng memiliki sejarah yang besar. Kita tidak boleh melupakan bahwa daerah ini pernah menjadi wilayah yang disegani karena kekuatan adat, kepemimpinan, dan semangat kebersamaan masyarakatnya. Warisan sejarah tersebut harus menjadi energi kolektif untuk membangun Bantaeng hari ini,” ujarnya, Senin (8/6/2026).

Di masa lalu, kata Yusdanar, para pemimpin Bantaeng menjalankan pemerintahan dengan orientasi yang tidak jauh berbeda dengan konsep tata kelola modern. Kepentingan rakyat ditempatkan sebagai prioritas, sementara nilai keadilan dan kebersamaan menjadi fondasi dalam menjalankan roda pemerintahan.

Warisan itulah yang dinilai masih relevan hingga saat ini. Sebab, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga identitas, budaya, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Di tengah dinamika pembangunan yang terus berlangsung, Yusdanar memandang kritik sebagai bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Baginya, kritik bukanlah bentuk perlawanan terhadap pemerintah, melainkan wujud kepedulian masyarakat terhadap arah pembangunan daerah.

Ia menegaskan bahwa suara-suara kritis yang muncul seharusnya dipahami sebagai mekanisme kontrol sosial yang bertujuan memperkuat kualitas pelayanan publik dan memastikan kebijakan yang dijalankan tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.

“Dalam ilmu sosial dan politik, kritik adalah bagian dari kontrol masyarakat terhadap jalannya pemerintahan. Kritik yang konstruktif bukan untuk merusak, tetapi untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai harapan rakyat,” tegasnya.

Sebagai putra daerah, Yusdanar mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Bantaeng. Ia berharap daerah yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, sumber daya alam, dan sumber daya manusia tersebut mampu kembali menjadi salah satu pusat kemajuan di Sulawesi Selatan.

Harapan itu bukan tanpa alasan. Sejarah telah menunjukkan bahwa Bantaeng pernah tumbuh sebagai wilayah yang diperhitungkan. Dengan semangat persatuan dan kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat, kejayaan itu diyakini dapat kembali diwujudkan dalam bentuk yang sesuai dengan tantangan zaman saat ini.

“Bantaeng adalah rumah kita bersama. Daerah ini memiliki kekayaan sejarah, budaya, sumber daya alam, dan sumber daya manusia yang luar biasa. Yang kita perlukan adalah semangat kolektif untuk mengembalikan kejayaan tersebut. Saya percaya, apabila seluruh elemen bersatu dengan niat yang tulus, Bantaeng dapat kembali menjadi daerah yang maju, berwibawa, dan menjadi kebanggaan Sulawesi Selatan,” katanya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, pesan itu terasa semakin relevan. Sebab, sebuah daerah tidak akan kehilangan arah ketika masih mengenal akar sejarahnya. Dari jejak peradaban masa lampau, Bantaeng sesungguhnya memiliki modal besar untuk melangkah ke depan, bukan sekadar mengejar kemajuan, tetapi juga menjaga jati diri yang telah diwariskan oleh generasi-generasi sebelumnya.

Karena sejatinya, kejayaan masa depan sering kali lahir dari kemampuan suatu daerah untuk menghargai dan belajar dari kejayaan masa lalunya.