BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG, 24 Agustus 2026 — Di tengah berbagai pembangunan dan aktivitas pemerintahan, masih ada warga yang menjalani kehidupan dalam keterbatasan dan bertahan di rumah yang nyaris tak lagi mampu disebut layak huni.
Salah satunya Dg Baco, warga Kelurahan Bonto Atu, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng.

Rumah yang ditempatinya bersama keluarga berada dalam kondisi memprihatinkan. Bangunannya telah reyot dan berdiri di atas tanah yang bukan miliknya. Di tempat sederhana itulah Dg Baco dan keluarganya bertahan menjalani kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut diperlihatkan oleh Syamsuddin Adam, yang sebelumnya juga aktif menyuarakan persoalan krisis air bersih di sejumlah wilayah Bantaeng.
Bagi Syamsuddin, persoalan Dg Baco bukan sekadar tentang rumah yang rusak. Di balik dinding yang mulai lapuk dan bangunan yang semakin renta, ada keluarga yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.
“Saya sangat prihatin melihat kondisi keluarga ini. Rumahnya sudah reyot, mereka juga tinggal menumpang di tanah orang. Kita tentu tidak ingin ada warga kita yang harus menjalani kehidupan seperti ini tanpa perhatian,” ujar Syamsuddin.
Yang membuat Syamsuddin semakin prihatin, lokasi tempat tinggal Dg Baco disebut tidak jauh dari kediaman Bupati Bantaeng.

Karena itu, ia berharap pemerintah daerah tidak hanya melihat persoalan masyarakat dari balik meja atau melalui laporan administrasi, tetapi juga mau turun langsung melihat kehidupan warga yang membutuhkan.
Syamsuddin berharap setelah video kondisi Dg Baco diperlihatkan kepada pemerintah, Bupati Bantaeng bersama jajaran terkait dapat melihat langsung keadaan keluarga tersebut dan memberikan bantuan sesuai ketentuan.
“Harapan saya, setelah Bapak Bupati melihat video ini, kiranya bisa datang melihat langsung kondisi beliau. Kalau memang ada bantuan yang bisa diberikan sesuai ketentuan, saya berharap pemerintah bisa membantu,” katanya.
Menurut Syamsuddin, bantuan yang diharapkan bukan sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya membutuhkan tempat tinggal yang lebih layak dan aman untuk menjalani kehidupan.
Sebab, terkadang masyarakat tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin tidur tanpa rasa takut ketika hujan turun, ingin memiliki tempat berteduh yang tidak membuat mereka cemas, dan ingin merasa bahwa negara masih melihat keberadaan mereka.

Ada kalanya seorang pejabat tidak perlu menunggu laporan bertumpuk untuk mengetahui penderitaan rakyatnya. Cukup keluar dari ruang kerja, menoleh ke sekeliling, dan melihat dengan mata sendiri bagaimana sebagian rakyat menjalani hidup.
Dg Baco mungkin tidak memiliki akses untuk mengetuk pintu kekuasaan. Ia mungkin tidak memiliki kemampuan untuk menyampaikan keluhannya dengan bahasa birokrasi.
Tetapi penderitaan tidak pernah membutuhkan surat pengantar untuk menjadi alasan bagi kita untuk peduli.
Di balik rumah yang reyot itu ada manusia. Ada keluarga. Ada harapan. Dan ada hak untuk hidup dengan lebih layak.
Karena itu, pesan Syamsuddin sederhana: jangan biarkan seorang warga harus menunggu rumahnya benar-benar roboh hanya untuk kemudian mendapatkan perhatian.
Bagi pemerintah, mungkin membantu satu keluarga hanyalah bagian kecil dari begitu banyak pekerjaan.
Namun bagi keluarga Dg Baco, uluran tangan itu mungkin berarti satu hal yang sangat besar: keyakinan bahwa mereka tidak dilupakan.
Semoga kisah ini tidak berhenti sebagai sebuah video yang ditonton, tetapi menjadi pintu bagi hadirnya kepedulian. Karena ukuran keberhasilan pemerintah bukan hanya seberapa megah pembangunan yang terlihat, tetapi juga seberapa jauh tidak ada rakyat yang dibiarkan merasa sendirian dalam menghadapi kehidupannya.













