BANTAENGNEWS.COM – Bantaeng, 1 Juli 2026 — Setelah hampir tiga pekan memilih diam di tengah sorotan publik, Darwin akhirnya angkat suara terkait dugaan perkara sejumlah kendaraan bermotor yang menyeret namanya dalam polemik titip gadai di Kabupaten Bantaeng.
Dalam keterangannya kepada awak media, Darwin menegaskan bahwa dirinya bukan pelaku penadahan sebagaimana yang dituduhkan, melainkan pihak yang justru merasa dirugikan dalam rangkaian peristiwa tersebut.
“Saya bukan penadah. Saya ini justru korban,” ujarnya dengan nada berat.
Pernyataan tersebut menjadi titik balik dari polemik yang mencuat dalam beberapa waktu terakhir, terkait dugaan penguasaan sejumlah kendaraan yang kini tengah menjadi perhatian publik.
DARI DIAM MENUJU KLARIFIKASI
Sebelumnya, pada 11 Juni 2026, Darwin sempat enggan memberikan penjelasan rinci kepada media dan hanya menyampaikan bahwa dirinya akan membuka seluruh fakta pada waktu yang tepat.
Pada 30 Juni 2026 malam, ia akhirnya kembali menghubungi awak media dan menyerahkan sejumlah dokumen serta kronologi kejadian yang menurutnya mengandung berbagai kejanggalan.
“Saya hanya ingin kebenaran ini dilihat secara utuh. Jangan hanya saya yang disalahkan,” katanya.
AWAL TRANSAKSI YANG DINYATAKAN SAH
Menurut penuturannya, peristiwa bermula pada Desember 2025, ketika ia diminta membantu permodalan usaha yang disebut “Dapur MBG”. Sebagai bentuk jaminan, ia menerima sejumlah kendaraan yang disertai dokumen berupa BPKB dan STNK.
Ia mengaku saat itu tidak menaruh kecurigaan karena dokumen terlihat lengkap dan data kendaraan dinilai sesuai.
“Saya percaya karena semua tampak sah,” ujarnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, keyakinan tersebut mulai berubah.
Munculnya Pihak Lain dan Perbedaan Informasi
Memasuki Mei 2026, Darwin menyebut muncul pihak lain yang mengklaim sebagai pemilik kendaraan tersebut. Kondisi itu memicu serangkaian pertemuan dan perbedaan keterangan yang membuat situasi semakin tidak jelas.
“Saat itu saya mulai sadar ada hal yang tidak utuh sejak awal,” ungkapnya.
Peristiwa Malam yang Menjadi Titik Kritis
Puncak peristiwa terjadi pada 1 Juni 2026 malam, ketika sejumlah kendaraan disebut berpindah tangan dalam situasi yang menurut Darwin berlangsung cepat dan tanpa penjelasan dokumen kepemilikan yang terbuka.
Ia juga mengaku sempat menerima komunikasi dari pihak lain yang meminta agar kendaraan tetap berada dalam penguasaan sampai ada penyelesaian.
Namun, menurutnya, situasi di lapangan terus berkembang menjadi semakin kompleks.
Masih Menyisakan Banyak Pertanyaan
Darwin menilai masih terdapat sejumlah kejanggalan terkait status kepemilikan kendaraan, perjanjian awal, serta keterlibatan berbagai pihak dalam rangkaian peristiwa tersebut.
“Saya hanya ingin semuanya terang. Kalau saya salah saya siap bertanggung jawab, tapi kalau saya korban, jangan saya dijadikan satu-satunya pihak yang disalahkan,” tegasnya.
HARAPAN KEPADA APARAT PENEGAK HUKUM
Ia berharap aparat penegak hukum dapat menelusuri kasus ini secara menyeluruh, objektif, dan transparan agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan di masyarakat.
“Saya berharap aparat hukum bekerja secara profesional dan transparan agar dapat melahirkan keadilan, saya juga berharap persoalan ini di bongkar sampai ke akar akarnya agar tidak ada lagi korban korban berikutnya”
CATATAN REDAKSI
Seluruh isi pemberitaan ini berdasarkan keterangan satu pihak yang disampaikan kepada awak media. Dugaan, pernyataan, dan informasi terkait pihak lain belum dapat disimpulkan sebagai fakta hukum yang telah diuji di pengadilan. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi semua pihak sesuai dengan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.













