Beredarnya video yang memperlihatkan sejumlah pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bantaeng berada di lokasi kericuhan saat aksi demonstrasi mahasiswa memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat
BANTAENGNEWS.COM – Perhatian publik di Kabupaten Bantaeng belakangan tertuju pada dua peristiwa yang sama-sama berkaitan dengan dunia pendidikan. Di satu sisi, dugaan pengrusakan aset SD Inpres Panjang yang telah lama menjadi perhatian masyarakat belum menunjukkan perkembangan penanganan yang jelas. Di sisi lain, beredarnya video yang memperlihatkan sejumlah pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bantaeng berada di lokasi kericuhan saat aksi demonstrasi mahasiswa memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sejumlah pejabat Disdikbud berada di sekitar lokasi aksi Himpunan Pelajar Mahasiswa Bantaeng Raya (HPMB Raya) di depan Kantor Bupati Bantaeng, Jumat (29/5/2026). Kehadiran pejabat pendidikan di tengah situasi yang memanas itu menjadi bahan perbincangan publik.
Masyarakat menilai perhatian Dinas Pendidikan seharusnya lebih diarahkan pada penyelesaian berbagai persoalan pendidikan yang masih menjadi pekerjaan rumah, termasuk dugaan pengrusakan aset SD Inpres Panjang yang hingga kini belum terdengar perkembangan penanganannya secara terbuka.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Pemuda LIRA Kabupaten Bantaeng, Yusdanar Hakim, meminta agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan lebih fokus pada penyelesaian persoalan pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.
“Kasus dugaan pengrusakan aset SD Inpres Panjang sampai hari ini masih menjadi tanda tanya di tengah masyarakat. Publik tentu berharap ada perkembangan yang jelas dan transparan karena ini menyangkut aset negara serta kepentingan dunia pendidikan,” ujar Yusdanar.
Menurutnya, kemunculan sejumlah pejabat Disdikbud dalam video yang beredar justru menimbulkan pertanyaan baru di tengah masyarakat. Ia menilai publik berhak mengetahui alasan keberadaan para pejabat tersebut di lokasi aksi mahasiswa.
“Kehadiran pejabat Disdik di lokasi aksi yang berujung kericuhan tentu memunculkan berbagai persepsi. Karena itu perlu ada penjelasan resmi agar tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan di tengah masyarakat,” katanya, Minggu (31/5/2026).
Yusdanar menegaskan bahwa aparatur yang membidangi sektor pendidikan semestinya lebih memprioritaskan upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan, perlindungan aset sekolah, serta penyelesaian berbagai persoalan yang masih dihadapi satuan pendidikan di Kabupaten Bantaeng.
Sementara itu, kasus dugaan pengrusakan aset SD Inpres Panjang sebelumnya sempat menjadi sorotan publik karena menyangkut fasilitas pendidikan yang digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar. Namun hingga kini, masyarakat masih mempertanyakan langkah konkret yang telah dilakukan untuk mengawal penyelesaian persoalan tersebut.
Pemuda LIRA Bantaeng juga berharap penanganan kasus tersebut dilakukan secara serius dan terbuka agar masyarakat dapat mengetahui perkembangan prosesnya.
“Kami berharap persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut. Transparansi dan keseriusan dalam menangani dugaan pengrusakan aset sekolah sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan sektor pendidikan di Kabupaten Bantaeng,” tegas Yusdanar.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng terkait perkembangan penanganan dugaan pengrusakan aset SD Inpres Panjang maupun keberadaan sejumlah pejabatnya di lokasi aksi mahasiswa.










