Mohon Perhatian
Wartawan dan Crew Media Online BantaengNews.com tidak menerima imbalan apapun dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pewarta serta dalam menjalankan tugas-tugasnya dilindungi oleh Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999

Dari Tanah Tandus Menuju Kemandirian Kisah Kelompok Tani Hamparan Erasaya dan Perjuangan Bangun Masa Depan

M. Nasrun HL, yang lebih dikenal masyarakat dengan sapaan Bapak Accung (Kanan)

BANTAENGNEWS.COM — Di tengah tantangan alam dan keterbatasan sumber daya, semangat untuk bertahan dan berkembang terus hidup di Dusun Erasaya, Desa Biangkeke, Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng. Dari kawasan yang dikenal memiliki kondisi curah hujan terbatas, lahir sebuah kisah perjuangan yang menjadi inspirasi tentang ketekunan, inovasi, dan kemandirian.

Kelompok Tani Hamparan Erasaya menjadi salah satu kelompok tani yang dinilai berhasil membangun sektor pertanian dan peternakan secara mandiri dan berkelanjutan. Keberhasilan itu tidak datang secara instan, tetapi melalui proses panjang yang dibangun dari kerja keras dan keberanian mencoba cara-cara baru.

Salah satu sosok yang menonjol dalam perjalanan tersebut adalah M. Nasrun HL, yang lebih dikenal masyarakat dengan sapaan Bapak Accung.

Sebagai petani, Bapak Accung dikenal memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengelola lahan pertanian. Ia menerapkan teknik budidaya padi dengan memanfaatkan sisa potongan padi dari musim tanam sebelumnya sebagai bahan tanam berikutnya. Cara ini dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus menghemat kebutuhan air—sebuah langkah yang relevan bagi wilayah dengan kondisi lahan dan curah hujan yang terbatas.

Bagi Bapak Accung, bertani bukan sekadar menjaga hasil panen, tetapi bagaimana menciptakan sistem usaha yang bisa terus berjalan dan memberi manfaat bagi keluarga.

Tidak hanya di sektor pertanian, ia juga menekuni usaha peternakan sapi. Perjalanan itu dimulai secara sederhana pada tahun 2011 dengan hanya memiliki tiga ekor indukan sapi. Melalui pengelolaan yang konsisten dan pengembangan bertahap, jumlah ternaknya kini mencapai sekitar 27 ekor indukan pada tahun 2026.

Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa usaha yang dimulai dari skala kecil dapat berkembang apabila dijalankan dengan kesabaran, disiplin, dan perencanaan yang berkelanjutan.

Keberhasilan yang diraih tidak hanya terlihat dari sisi ekonomi. Hasil dari perjuangan itu turut membuka akses pendidikan bagi keluarga. Salah satu anak Bapak Accung berhasil menempuh dan menyelesaikan pendidikan magister (S2) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yogyakarta.

Menurut Bapak Accung, pencapaian yang diraih hari ini tidak terlepas dari kemauan untuk terus belajar, bekerja keras, serta dukungan dan pendampingan dari para penyuluh pertanian di Kabupaten Bantaeng.

“Banyak tantangan yang kami hadapi, tapi prinsip kami tetap ada-adaji itu, yang penting terus berusaha,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).

Dalam proses membangun usaha dari nol, ia juga mengaku banyak mendapatkan masukan, motivasi, dan ruang berdiskusi dari sejumlah tokoh masyarakat setempat, di antaranya Kr. Nippong dan Andi Mappatoba Kr. Ali.

Di balik perjalanan itu, Bapak Accung juga mengenang peran orang tuanya, almarhum Haji Loncing, yang menurutnya pernah menghibahkan sebagian tanah keluarga untuk kepentingan masyarakat, termasuk sebagai lokasi fasilitas pendidikan SD Inpres Parumputan dan sarana ibadah Masjid Erasaya.

Kisah Kelompok Tani Hamparan Erasaya menunjukkan bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjalanan. Dengan inovasi, ketekunan, semangat belajar, serta dukungan lingkungan sosial, masyarakat desa mampu menciptakan perubahan nyata bagi kehidupan mereka.

Kini, kelompok tersebut kerap dipandang sebagai salah satu kelompok tani andalan yang tumbuh dari bawah dan berkembang melalui usaha sendiri.

Menutup ceritanya, Bapak Accung menyampaikan pesan singkat yang mencerminkan semangat perjuangannya, “Bantaeng tetap bangkit selamanya”.