BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG, SULAWESI SELATAN — Tidak semua kritik lahir dari kebencian. Ada kritik yang tumbuh dari kecintaan, kegelisahan, dan keinginan agar daerah tempat seseorang dilahirkan menjadi lebih baik. Kamis, 27 Agustus 2026
Hal itulah yang disampaikan Ichsan Revolusi saat memberikan apresiasi kepada Bupati Bantaeng atas respons pemerintah terhadap sejumlah aspirasi yang sebelumnya ia suarakan bersama masyarakat.
Ichsan menilai, pemerintah daerah telah menunjukkan sikap cepat tanggap terhadap persoalan yang menjadi perhatian publik, khususnya terkait kondisi kekeringan dan kebutuhan air bersih yang dirasakan masyarakat.
“Sepertinya Bapak Bupati Bantaeng sudah cepat tanggap terhadap apa yang menjadi penyampaian publik. Ketika kami mengawal masyarakat yang terdampak persoalan air bersih, Bupati menemui kami. Begitu juga ketika saya menyampaikan agar pemerintah melakukan salat meminta hujan, pemerintah kemudian merespons dengan akan melaksanakannya,” ujar Ichsan.
Ia juga mengaku telah membaca isi surat undangan yang beredar dan sempat disampaikan melalui berbagai media. Dalam surat tersebut, Bupati Bantaeng mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk mengikuti Salat Istisqa atau salat meminta hujan.
Dalam surat itu disebutkan, kondisi cuaca panas dan kemarau yang disertai angin kencang telah menyebabkan kekeringan serta berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Atas kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantaeng akan melaksanakan Salat Istisqa sebagai salah satu ikhtiar untuk memohon turunnya hujan.
Salat Istisqa tersebut dijadwalkan berlangsung pada:
Hari/Tanggal: Jumat, 28 Agustus 2026
Pukul: 07.00 WITA–selesai
Tempat: Lapangan Lompo Batang
Penceramah: Dr. KH. Ahmad Abd. Hayyi, Lc., MA
Imam: H. Rusdiawan, S.Ag., M.H.I.
Surat undangan tersebut ditandatangani oleh Bupati Bantaeng Muhammad Fathul Fauzy Nurdin, M.I.Kom., dan ditujukan kepada masyarakat untuk hadir serta mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Bagi Ichsan, respons tersebut merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Sebab, menurutnya, suara masyarakat tidak semestinya selalu dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah.
“Kami bersuara bukan untuk menjatuhkan, bukan juga untuk menghina dan mencaci pemerintah. Kami bersuara karena kami ingin berbuat untuk Kabupaten Bantaeng dan kepentingan rakyat,” katanya.
Ia berharap Bupati Bantaeng dan jajaran pemerintah daerah tidak memandang dirinya bersama rekan-rekan yang menyampaikan kritik sebagai kelompok yang anti-pemerintah.
“Kami berharap Bapak Bupati tidak lagi menganggap kami dan kawan-kawan sebagai bagian yang anti-pemerintah. Kami mengkritik demi kebaikan kampung kami sendiri, kampung kelahiran kami sendiri, untuk masyarakat banyak. Bukan untuk kepentingan golongan, apalagi kepentingan pribadi,” tegasnya.
Menurut Ichsan, pemerintah dan masyarakat sebenarnya berada pada tujuan yang sama, yakni mewujudkan Bantaeng yang lebih baik. Perbedaannya hanya pada cara melihat persoalan dan menyampaikan suara.
“Kalau ada yang kami sampaikan, itu karena kami peduli. Kami ingin Bantaeng lebih baik ke depan. Ketika pemerintah mau mendengar dan masyarakat mau menyampaikan aspirasi, di situlah sebenarnya ada kekuatan untuk membangun daerah,” ujarnya.
Ichsan pun kembali menyampaikan apresiasi kepada Bupati Bantaeng karena dinilai cepat merespons apa yang telah disuarakan di ruang publik.
“Apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati Bantaeng karena sudah cepat tanggap terhadap apa yang telah kami suarakan,” ucapnya.
Ia berharap komunikasi antara masyarakat dan pemerintah dapat terus terjaga, sehingga setiap kritik maupun aspirasi dapat menjadi bahan evaluasi dan perbaikan bagi pemerintah daerah.
“Di bawah kepemimpinan Bupati Bantaeng, saya berharap Bantaeng bisa betul-betul bangkit. Bangkit bukan hanya dalam pembangunan, tetapi juga dalam pelayanan kepada masyarakat dan kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi rakyat,” tutup Ichsan Revolusi.
Sebab, menyampaikan kritik adalah bagian dari kepedulian, sementara kesediaan pemerintah untuk mendengar adalah bagian dari kebesaran hati. Ketika keduanya bertemu dalam niat yang sama—demi rakyat dan daerah yang dicintai—maka perbedaan suara tidak lagi menjadi jarak, melainkan jalan menuju Bantaeng yang lebih baik.













