BANTAENGNEWS.COM – MOROWALI UTARA — Sejumlah warga Desa Lemo, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, mengaku menjadi korban dugaan penipuan oleh seorang pria yang mengaku sebagai petugas PLN, bahkan menyebut dirinya sebagai kepala PLN. Kamis, 1 Oktober 2026
Kejadian itu terungkap setelah sejumlah warga menyerahkan uang untuk pemesanan meteran listrik sekaligus pemasangan instalasi. Namun, meteran yang dijanjikan tidak kunjung datang. Warga juga mengaku kesulitan menghubungi orang tersebut karena nomor telepon mereka diduga telah diblokir.
Salah seorang warga, Thomas Sulaeman, yang akrab disapa Papamun, kemudian mendatangi Polsek Bungku Utara untuk menyampaikan pengaduan. Thomas mengatakan, anak kandungnya yang saat ini sedang hamil tua juga menjadi salah satu korban.
Menurut Thomas, anaknya telah memesan meteran listrik sekaligus pemasangan instalasi dengan biaya Rp1.800.000.
“Anak saya menyampaikan kepada saya bahwa dia sudah memesan meteran sekaligus pemasangan instalasi seharga Rp1.800.000. Orang itu berjanji akan datang membawa meteran sekitar Minggu, 20 September 2026, tetapi sampai hari yang dijanjikan tidak datang,” ujar Thomas.
Thomas mengatakan, setelah orang tersebut tidak datang sesuai janji, nomor telepon anaknya juga tidak dapat lagi dihubungi.
Kasman, warga lainnya, mengaku mengalami kerugian sebesar Rp1.195.000. Uang tersebut diberikan dalam dua tahap, yakni Rp300.000 secara tunai sebagai pembayaran awal dan Rp895.000 melalui transfer BRIlink ke rekening bank atas nama A.R.
Kasman mengaku awalnya percaya karena orang tersebut sebelumnya pernah berada di lingkungan warga.
“Orang ini sebelumnya dipanggil sama tetangga untuk memperbaiki kulkas yang rusak, bahkan memperbaiki meteran. Kami tidak pernah mempertanyakan nama lengkapnya. Dia menyebut marga Arung Pone di WhatsApp dan mengaku sebagai petugas PLN, bahkan mengaku kepala PLN,” kata Kasman.
Menurut Kasman, warga semakin percaya karena pria tersebut sempat melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan meteran listrik.
“Dia pernah memindahkan kWh warga dan memperbaiki pemakaian kWh yang boros menjadi irit. Dari situ kami percaya. Kami juga sempat bertanya harga kWh, dia bilang bulan ini ada promo,” ujarnya.
Kecurigaan warga baru muncul ketika orang tersebut tidak datang pada waktu yang telah dijanjikan.
“Kami baru merasa ditipu ketika hari yang dijanjikan dia tidak datang. Nomor kami juga diblokir sehingga tidak bisa lagi menghubunginya,” kata Kasman.
Bukan hanya Thomas dan Kasman, warga lainnya juga mengaku mengalami kejadian serupa.
Marianus mengatakan dirinya baru menyerahkan uang Rp300.000 sebagai panjar. Ia juga mengaku KTP miliknya dibawa oleh orang tersebut.
“Saya juga ditipu pak. Untung baru Rp300 ribu sebagai panjar dan KTP saya juga dibawa,” ujar Marianus
Sementara Mama Gisel mengaku ikut mengalami kerugian setelah membantu Bela melakukan pembayaran kepada orang tersebut.
“Awalnya Bela yang memesan kWh kepada orang itu, tapi saya yang membawa uang Bela ke BRIlink untuk transfer,” kata Mama Gisel.
Ia menunjukkan bukti transfer sebesar Rp1.300.000. Setelah kejadian tersebut diketahui, uang milik Bela kemudian diganti. Namun, Mama Gisel mengaku tetap mengalami kerugian akibat transaksi tersebut.
Warga menyebut sedikitnya empat orang di Desa Lemo dan dua orang dari Desa Sea diduga menjadi korban dalam kejadian tersebut.
Setelah mulai curiga, warga kemudian berusaha memastikan apakah pria tersebut benar merupakan petugas PLN.
Ririn, anak Thomas Sulaeman, mengatakan pihaknya sempat menghubungi petugas PLN yang berada di wilayah Toili untuk menanyakan identitas orang tersebut berdasarkan nama yang digunakan di WhatsApp.
“Menurut petugas PLN yang kami hubungi di Toili, tidak ada nama seperti itu,” kata Ririn.
Ririn bersama Mama Gisel kemudian kembali mencari informasi dengan menghubungi salah seorang kenalan yang bekerja di PLN wilayah Luwuk.
Menurut Ririn, petugas yang mereka hubungi menyampaikan bahwa petugas PLN yang sedang menjalankan tugas harus menggunakan seragam atau atribut sebagai identitas.
Sementara pria yang datang ke Desa Lemo tersebut, menurut keterangan warga, tidak pernah menggunakan seragam PLN saat berada di tengah masyarakat.
“Orang yang mengaku sebagai petugas PLN itu kalau datang ke warga Desa Lemo tidak pernah memakai seragam PLN,” ujar Ririn.
Thomas Sulaeman mengatakan kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi dirinya dan warga lainnya agar lebih berhati-hati.
“Ini menjadi pembelajaran bagi kami. Ke depan harus lebih berhati-hati. Kami berharap orangnya segera ditemukan agar tidak ada lagi warga yang menjadi korban, bukan cuma di Desa Lemo dan Sea, tapi di mana saja,” ujar Thomas.
Thomas juga menyampaikan apresiasi kepada anggota Polsek Bungku Utara yang telah menerima pengaduan masyarakat.
Sementara itu, Aipda Dedi Viner G, petugas Polsek Bungku Utara yang sedang piket, mengimbau masyarakat yang merasa menjadi korban agar tidak ragu datang ke kantor polisi dan menyampaikan laporan atau pengaduan secara resmi.
Menurut Aipda Dedi, laporan dari masyarakat akan membantu kepolisian dalam menghimpun informasi dan menindaklanjuti kejadian tersebut sesuai ketentuan dan prosedur hukum yang berlaku.
“Kami mengimbau kepada masyarakat yang merasa menjadi korban agar tidak ragu untuk hadir dan menyampaikan laporan atau pengaduan secara resmi kepada pihak kepolisian,” ujar Aipda Dedi.
Hingga berita ini diterbitkan, dugaan penipuan tersebut masih dalam bentuk pengaduan masyarakat. Pihak kepolisian diharapkan dapat menindaklanjuti laporan tersebut dan mengungkap identitas orang yang dimaksud.













