Mohon Perhatian
Wartawan dan Crew Media Online BantaengNews.com tidak menerima imbalan apapun dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pewarta serta dalam menjalankan tugas-tugasnya dilindungi oleh Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999

Milad ke-80 HPMM: Refleksi Sejarah dan Peneguhan Arah Perjuangan

BANTAENGNEWS.COM – MAKASSAR – Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu (HPMM) memperingati hari lahir ke-80 pada 14 Oktober 2026. Berdiri sejak 14 Oktober 1946, delapan dekade perjalanan organisasi ini menjadi momentum refleksi untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap kaderisasi, independensi, dan perjuangan masyarakat Massenrempulu. Kamis, 15 Oktober 2026

Milad ke-80 tidak semestinya berhenti pada seremoni dan romantisme sejarah. Momentum ini harus menjadi ruang evaluasi untuk mengukur konsistensi organisasi dalam menjalankan konstitusi, memperkuat kualitas kader, serta menjaga independensi agar tetap kritis terhadap kekuasaan dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Secara filosofis, identitas Massenrempulu yang lekat dengan lanskap pegunungan, termasuk Bambapuang dan Latimojong, menjadi pengingat bahwa perjuangan membutuhkan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan. Nilai-nilai Islam, independensi, fungsi pengaderan, dan semangat perjuangan sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar HPMM harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar jargon organisasi.

HPMM juga dituntut hadir menjawab persoalan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesejahteraan petani, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, hingga pelayanan publik. Penguatan kaderisasi, demokrasi internal, akuntabilitas, dan tradisi intelektual harus menjadi agenda utama agar organisasi tetap relevan dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Milad ke-80 HPMM harus menjadi momentum otokritik, bukan sekadar seremoni untuk merawat estetika media sosial. Ketika integrasi organisasi tersendat dan independensi dibayangi kedekatan dengan lingkar kekuasaan, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah HPMM masih berdiri sebagai alat perjuangan rakyat, atau perlahan terjebak dalam kompromi politik yang menggerus daya kritisnya sendiri?

Jangan sampai HPMM begitu lantang menyuarakan romantisme perjuangan di ruang publik, sementara persoalan internal justru dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian. Sebab, kebesaran sebuah organisasi tidak hanya diukur dari sejarah panjang dan lantangnya slogan perjuangan, tetapi juga dari keberanian menyelesaikan persoalan di dalam tubuhnya sendiri.

Ini bukan alasan untuk berbangga tanpa evaluasi. HPMM harus kembali pada konstitusi, merawat persatuan, menjaga independensi, dan menolak segala bentuk kooptasi kekuasaan. Organisasi harus tetap menjadi ruang pembentukan intelektual dan moral kader, bukan sekadar kendaraan kepentingan kelompok atau individu tertentu.

Sebab, gerakan yang kehilangan keberanian untuk mengoreksi dirinya sendiri pada akhirnya hanya akan menjadi gema dari idealisme yang pernah diperjuangkannya.

Delapan dekade HPMM bukan sekadar warisan sejarah, melainkan amanah untuk masa depan. Milad ke-80 harus menjadi momentum meneguhkan konstitusi, merawat identitas kebudayaan, serta melahirkan kader yang beriman, berilmu, kreatif, dan berintegritas demi terwujudnya masyarakat Massenrempulu yang adil dan sejahtera.

Selamat Milad ke-80 HPMM. Menjaga sejarah, meneguhkan perjuangan, dan mengabdi untuk Massenrempulu.

Penulis: Fadil Adinata