Mohon Perhatian
Wartawan dan Crew Media Online BantaengNews.com tidak menerima imbalan apapun dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pewarta serta dalam menjalankan tugas-tugasnya dilindungi oleh Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999

Enam Anak di Bantaeng Alami Gangguan Pencernaan, Satgas MBG : Bukan KLB

Penyampaian hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) terhadap enam anak yang sempat dirawat di Puskesmas Sinoa kepada Wakil Bupati Bantaeng selaku ketua Satgas MBG

BANTAENGNEWS.COM — Wakil Bupati Bantaeng, Sahabuddin, selaku Ketua Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan klarifikasi terkait laporan sejumlah anak yang mengalami muntah dan diare di wilayah Batu Tiroa, Desa Bontobulaeng, Kecamatan Sinoa, awal April 2026.

Berdasarkan hasil investigasi komprehensif, kejadian tersebut dipastikan bukan keracunan makanan, melainkan gangguan pencernaan akibat pola konsumsi.

Informasi yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Bantaeng, H. Andi Ihsan bahwa Tim Gerak Cepat Dinas Kesehatan telah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) terhadap enam anak yang sempat dirawat di Puskesmas Sinoa pada Rabu, 1 April 2026.

Wakil Bupati Bantaeng, Sahabuddin yang didampingi Sekretaris Satgas MBG Yanti Mustajab, Kepala Dinas Kesehatan, serta tim PE, menjelaskan bahwa gejala muncul setelah anak-anak mengonsumsi campuran susu UHT, pepaya, dan gula pasir secara bersamaan sekitar pukul 16.00 WITA.

“Dari hasil wawancara dan pemeriksaan medis, kombinasi makanan tersebut memicu gangguan pencernaan pada anak-anak,” ujarnya (3/4/2026)

Secara medis, interaksi enzim papain pada pepaya dengan protein kasein dalam susu dapat menyebabkan penggumpalan cepat di lambung, sehingga memicu mual dan muntah, terutama pada anak dengan lambung sensitif.

Selain itu, kombinasi serat pepaya, gula, dan laktosa juga meningkatkan tekanan osmotik di usus yang mempercepat peristaltik dan menyebabkan diare.

Pemerintah Kabupaten Bantaeng menegaskan bahwa kejadian ini bukan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan tidak terkait dengan program penyediaan makanan resmi (SPPG).

“Ini bukan KLB dan bukan keracunan makanan. Diagnosis dokter menunjukkan gangguan pencernaan akibat kombinasi makanan yang kurang tepat,” tegasnya.

Saat ini, seluruh pasien yang terdiri dari siswa SD 69 Batu Tiroa, TK Taqwa, serta anak usia prasekolah telah kembali ke rumah masing-masing setelah mendapatkan penanganan di Puskesmas Sinoa.

Kondisi pasien dilaporkan membaik tanpa komplikasi serius.

Wakil Bupati mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan kombinasi makanan yang dikonsumsi anak-anak guna mencegah gangguan pencernaan serupa di masa mendatang.