BANTAENGNEWS.COM – Di sejumlah kawasan perbukitan Kabupaten Bantaeng, pohon kemiri yang dahulu tumbuh lebat kini semakin jarang dijumpai. Pohon yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari lanskap alam sekaligus kehidupan masyarakat itu perlahan berkurang jumlahnya, memunculkan kekhawatiran akan masa depan salah satu tanaman khas yang memiliki banyak manfaat tersebut.
Bagi sebagian warga, kemiri bukan sekadar pohon yang menghasilkan biji untuk kebutuhan dapur. Kehadirannya menyimpan cerita panjang tentang hubungan manusia dengan alam. Di masa lalu, ketika listrik belum menjangkau banyak wilayah pedesaan, biji kemiri menjadi sumber penerangan sederhana yang membantu masyarakat menjalani aktivitas pada malam hari.
Biji kemiri yang telah dikeringkan biasanya dirangkai menggunakan lidi atau pelepah daun, kemudian dibakar untuk menghasilkan cahaya. Meski sederhana, cara tersebut pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sebelum teknologi penerangan modern berkembang seperti saat ini.
Dalam dunia kuliner, kemiri juga memiliki peran yang tidak tergantikan. Bumbu ini menjadi salah satu rahasia kelezatan berbagai masakan tradisional Nusantara. Teksturnya yang khas mampu memberikan rasa gurih alami sekaligus mengentalkan kuah pada berbagai hidangan.
Namun nilai kemiri tidak berhenti pada urusan dapur dan sejarah. Pohon ini juga dikenal sebagai tanaman yang memiliki fungsi ekologis penting. Dengan perakarannya yang kuat, kemiri membantu menjaga kestabilan tanah, mengurangi risiko erosi, serta berperan dalam menyerap air dan menjaga keseimbangan lingkungan di kawasan perbukitan maupun daerah aliran sungai.
Di sisi lain, kemiri juga memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan. Biji kemiri menjadi komoditas yang memiliki pasar tersendiri, sementara minyak yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dalam industri pangan maupun kosmetik. Bahkan kayunya juga dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan bangunan ringan hingga kerajinan.
Sayangnya, berbagai manfaat tersebut berbanding terbalik dengan kondisi populasinya yang terus berkurang di sejumlah wilayah. Minimnya regenerasi pohon dan berkurangnya kawasan tumbuh alami menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan dapat mengancam keberlangsungan tanaman ini di masa mendatang.
Kondisi tersebut mendorong munculnya harapan dari masyarakat agar pemerintah daerah mulai mengambil langkah nyata untuk menjaga keberadaan kemiri melalui program rehabilitasi dan penanaman kembali. Kawasan perbukitan serta lahan-lahan yang sebelumnya menjadi habitat kemiri dinilai dapat menjadi lokasi strategis untuk pengembangan kembali tanaman tersebut.
Bagi masyarakat, pelestarian pohon kemiri bukan hanya tentang menjaga satu jenis tanaman. Upaya tersebut juga dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk melestarikan lingkungan, mempertahankan nilai budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi generasi yang akan datang.
“Pohon kemiri bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berfungsi menjaga kelestarian lingkungan. Jika tidak dilakukan regenerasi sejak sekarang, dikhawatirkan keberadaannya akan semakin berkurang dan sulit ditemukan di masa yang akan datang,” ujar seorang warga, Minggu (07/6/2026).
Di tengah perubahan zaman, keberadaan pohon kemiri menjadi pengingat bahwa warisan alam tidak selalu dapat tergantikan. Ketika pohon-pohon tua mulai berkurang, harapan kini bertumpu pada upaya bersama untuk memastikan kemiri tetap tumbuh dan menjadi bagian dari wajah Bantaeng di masa depan.












