Mohon Perhatian
Wartawan dan Crew Media Online BantaengNews.com tidak menerima imbalan apapun dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pewarta serta dalam menjalankan tugas-tugasnya dilindungi oleh Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999

Ulas Singkat Rokok VS Vape dan Risiko di Ruang Kesehatan

para ahli kesehatan menegaskan keduanya tetap memiliki risiko serius bagi tubuh, terutama jika digunakan dalam jangka panjang

BANTAENGNEWS.COM — Penggunaan rokok konvensional maupun rokok elektronik atau vape terus menjadi perhatian dunia kesehatan. Meski vape kerap dianggap lebih aman dibanding rokok biasa, para ahli kesehatan menegaskan keduanya tetap memiliki risiko serius bagi tubuh, terutama jika digunakan dalam jangka panjang.

Rokok konvensional bekerja dengan cara membakar tembakau sehingga menghasilkan asap yang mengandung ribuan zat kimia berbahaya. Sementara vape menggunakan cairan atau liquid yang dipanaskan menjadi uap untuk dihirup pengguna.

Meski berbeda bentuk dan cara penggunaan, keduanya memiliki persamaan utama, yakni sama-sama mengandung nikotin yang dapat menyebabkan kecanduan. Selain itu, baik rokok maupun vape sama-sama berpotensi merusak paru-paru, jantung, dan pembuluh darah.

Pada rokok biasa, kandungan tar dan karbon monoksida menjadi penyebab utama berbagai penyakit kronis. Asap rokok diketahui berkaitan erat dengan penyakit kanker paru-paru, penyakit jantung, stroke, bronkitis kronis, hingga gangguan pernapasan lainnya. Perokok pasif juga memiliki risiko terkena dampak kesehatan akibat paparan asap.

Sementara itu, vape memang tidak menghasilkan tar sebanyak rokok konvensional, namun cairan vape tetap mengandung zat kimia seperti nikotin, propilen glikol, gliserin, hingga bahan perasa tertentu yang dapat membahayakan tubuh bila dihirup terus-menerus. Dalam sejumlah penelitian, penggunaan vape dikaitkan dengan gangguan paru-paru, iritasi saluran napas, penurunan fungsi paru, serta gangguan kesehatan jantung.

Beberapa kasus bahkan menunjukkan adanya penyakit paru serius akibat penggunaan vape berlebihan, yang dikenal sebagai EVALI atau cedera paru akibat penggunaan rokok elektronik.

Dari sisi perbedaan, rokok menghasilkan asap hasil pembakaran tembakau, sedangkan vape menghasilkan aerosol atau uap dari cairan yang dipanaskan. Aroma vape juga cenderung lebih beragam karena tersedia dalam berbagai rasa, berbeda dengan rokok yang identik dengan bau tembakau.

Namun demikian, para tenaga kesehatan mengingatkan bahwa anggapan vape sepenuhnya aman adalah keliru. Hingga kini, penelitian mengenai dampak jangka panjang vape masih terus berkembang dan belum sepenuhnya diketahui.

Dokter dan pakar kesehatan menyarankan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menghindari penggunaan rokok maupun vape demi menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

Edukasi mengenai bahaya nikotin dan zat adiktif lainnya juga dinilai penting untuk menekan peningkatan pengguna rokok elektronik di kalangan remaja.