BANTAENGNEWS.COM — Musim panen padi pada sejumlah wilayah di Kabupaten Bantaeng kembali diwarnai aktivitas pembakaran jerami di area persawahan. Asap tebal yang muncul akibat pembakaran tersebut dikeluhkan warga karena mengganggu aktivitas masyarakat maupun pengguna jalan.
Salah seorang warga yang melintas mengaku asap dari pembakaran jerami kerap menutupi badan jalan dan mengurangi jarak pandang pengendara.
“Kalau musim panen begini, asap pembakaran jerami sering sekali menutupi jalan. Kadang jarak pandang jadi terbatas dan cukup mengganggu pengendara yang melintas,” ujar seorang warga, Selasa (26/5/2026).
Warga lainnya juga mengeluhkan dampak asap terhadap kesehatan masyarakat, terutama bagi anak-anak dan lansia.
“Selain mengganggu perjalanan, asapnya juga terasa sesak, apalagi bagi anak-anak dan orang tua. Kami berharap ada solusi dari Pemerintah Kabupaten Bantaeng supaya jerami bisa dimanfaatkan dan tidak lagi dibakar sembarangan,” katanya.
Sejumlah petani menyebut pembakaran jerami dilakukan karena dianggap sebagai cara paling cepat untuk membersihkan lahan sebelum kembali ditanami. Namun di sisi lain, jerami sebenarnya masih memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi jika dikelola dengan baik.
Jerami diketahui dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, pupuk kompos, media budidaya jamur, hingga bahan baku energi biomassa. Karena itu, masyarakat berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat memberikan edukasi, pelatihan, serta bantuan alat pengolahan jerami kepada kelompok tani.
Warga juga mendorong adanya program pemanfaatan jerami berbasis desa agar limbah pertanian tersebut tidak lagi menjadi sumber polusi udara, tetapi bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan petani, persoalan asap akibat pembakaran jerami diharapkan dapat diminimalisir sehingga lingkungan tetap sehat dan kenyamanan masyarakat dapat terjaga.












