Mohon Perhatian
Wartawan dan Crew Media Online BantaengNews.com tidak menerima imbalan apapun dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pewarta serta dalam menjalankan tugas-tugasnya dilindungi oleh Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999

Dinkes Bantaeng Sarankan Sosialisasi Program MBG Diperkuat Usai Dugaan Keracunan Susu

BANTAENGNEWS.COM — Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantaeng, Iwan Setiawan, menyarankan agar pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih mengintensifkan sosialisasi terkait penyajian dan konsumsi menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal ini disampaikan menyusul insiden dugaan keracunan yang dialami enam warga usai mengonsumsi susu kemasan yang merupakan bagian dari program tersebut.

Berdasarkan informasi yang berkembang, susu yang dikonsumsi warga diduga telah dibuka terlebih dahulu dan tidak langsung diminum. Produk tersebut disebut disimpan lebih dari 24 jam sebelum akhirnya dikonsumsi oleh beberapa orang.

“Ini perlu menjadi perhatian bersama. Produk seperti susu kemasan seharusnya langsung dikonsumsi setelah dibuka, karena sangat rentan terkontaminasi bakteri jika disimpan terlalu lama,” lanjut Iwan, Rabu (8/4/2026).

Ia menegaskan, kejadian ini menjadi pembelajaran penting bagi semua pihak, baik penyelenggara program maupun masyarakat sebagai penerima manfaat. Sosialisasi yang masif dinilai penting agar masyarakat memahami tata cara penyimpanan dan konsumsi makanan yang aman.

Menurutnya, tanpa pemahaman yang baik, potensi risiko kesehatan tetap bisa terjadi meskipun makanan yang disalurkan telah memenuhi standar.

Dinkes Bantaeng juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi makanan dan minuman kemasan, terutama yang telah dibuka, guna menghindari kejadian serupa di masa mendatang.

Sebelumnya diberitakan, Wakil Bupati Bantaeng, Sahabuddin, selaku Ketua Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan klarifikasi terkait laporan sejumlah anak yang mengalami muntah dan diare di wilayah Batu Tiroa, Desa Bontobulaeng, Kecamatan Sinoa, awal April 2026.

Berdasarkan hasil investigasi komprehensif, kejadian tersebut dipastikan bukan keracunan makanan, melainkan gangguan pencernaan akibat pola konsumsi.

Informasi yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Bantaeng, H. Andi Ihsan bahwa Tim Gerak Cepat Dinas Kesehatan telah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) terhadap enam anak yang sempat dirawat di Puskesmas Sinoa pada Rabu, 1 April 2026.

Wakil Bupati Bantaeng, Sahabuddin yang didampingi Sekretaris Satgas MBG Yanti Mustajab, Kepala Dinas Kesehatan, serta tim PE, menjelaskan bahwa gejala muncul setelah anak-anak mengonsumsi campuran susu UHT, pepaya, dan gula pasir secara bersamaan sekitar pukul 16.00 WITA.

“Dari hasil wawancara dan pemeriksaan medis, kombinasi makanan tersebut memicu gangguan pencernaan pada anak-anak,” ujarnya (3/4/2026)

Secara medis, interaksi enzim papain pada pepaya dengan protein kasein dalam susu dapat menyebabkan penggumpalan cepat di lambung, sehingga memicu mual dan muntah, terutama pada anak dengan lambung sensitif.

Selain itu, kombinasi serat pepaya, gula, dan laktosa juga meningkatkan tekanan osmotik di usus yang mempercepat peristaltik dan menyebabkan diare.

Pemerintah Kabupaten Bantaeng menegaskan bahwa kejadian ini bukan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan tidak terkait dengan program penyediaan makanan resmi (SPPG).

“Ini bukan KLB dan bukan keracunan makanan. Diagnosis dokter menunjukkan gangguan pencernaan akibat kombinasi makanan yang kurang tepat,” tegasnya.

Saat ini, seluruh pasien yang terdiri dari siswa SD 69 Batu Tiroa, TK Taqwa, serta anak usia prasekolah telah kembali ke rumah masing-masing setelah mendapatkan penanganan di Puskesmas Sinoa.

Kondisi pasien dilaporkan membaik tanpa komplikasi serius.

Wakil Bupati mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan kombinasi makanan yang dikonsumsi anak-anak guna mencegah gangguan pencernaan serupa di masa mendatang.