BANTAENGNEWS.COM – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bantaeng, tepat di Jalan Pemuda, Kelurahan Pallantikang, berdiri sebuah kompleks makam kuno yang menyimpan kisah penting perjalanan Islam di Sulawesi Selatan.

Kompleks Makam La Tenri Ruwa atau yang dikenal masyarakat sebagai Kakaraengang ri Tombologani bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir para bangsawan, tetapi juga saksi bisu pergulatan politik, keyakinan, dan peradaban yang membentuk sejarah kawasan ini.

Kompleks makam tersebut berdiri di atas kawasan pekuburan tua yang diperkirakan telah digunakan sejak masa pra-Islam. Jejak budaya megalitik masih terlihat dari bentuk-bentuk makam dan penggunaan batu alam yang mendominasi area pemakaman.

Seiring masuknya Islam ke Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17, kawasan ini kemudian menjadi tempat dimakamkannya para raja dan tokoh penting yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Bantaeng.

Nama kompleks makam ini diambil dari sosok La Tenri Ruwa, Raja Bone ke-11 yang naik tahta pada tahun 1611. Dalam catatan sejarah, ia dikenal sebagai Raja Bone pertama yang menerima Islam setelah mendapat pengaruh dakwah dari Kerajaan Gowa di bawah pemerintahan Sultan Alauddin.
Namun keputusan itu tidak diterima semua pihak. Penolakannya terhadap tradisi lama memicu pertentangan di kalangan elite adat Bone.

Situasi tersebut membuat La Tenri Ruwa memilih meninggalkan kerajaannya dan mengasingkan diri ke Bantaeng. Di daerah pesisir selatan Sulawesi itu, ia melanjutkan perjuangan menyebarkan ajaran Islam hingga akhir hayatnya.
Tidak hanya La Tenri Ruwa, kompleks makam ini juga diyakini menjadi tempat persemayaman Karaeng Majjombea, Raja Bantaeng ketujuh yang dikenal sebagai penguasa pertama Bantaeng yang menerima Islam. Kehadiran dua tokoh besar tersebut menjadikan situs ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dalam proses Islamisasi di Sulawesi Selatan.


Memasuki kawasan makam, pengunjung akan menemukan berbagai bentuk jirat dan nisan yang mencerminkan perpaduan budaya lokal dengan pengaruh Islam. Batu andesit, batu karang, batu cadas, batu bata hingga batu kapur digunakan sebagai bahan utama pembuatan makam.
Sebagian besar makam memiliki bentuk berundak yang mengingatkan pada tradisi megalitik, namun dihiasi ornamen dan simbol yang berkembang pada masa Islam.

Detail ornamen yang masih terlihat hingga kini menjadi bukti kekayaan tradisi budaya yang berkembang di Bantaeng pada masa lampau.
Meski memiliki nilai sejarah yang besar, kompleks makam ini juga menyimpan misteri. Hampir seluruh makam di kawasan tersebut tidak dilengkapi inskripsi atau tulisan yang menjelaskan identitas penghuni makam maupun waktu wafatnya. Akibatnya, penentuan makam tokoh-tokoh penting seperti La Tenri Ruwa dan Karaeng Majjombea lebih banyak didasarkan pada tradisi lisan masyarakat yang diwariskan turun-temurun serta hasil kajian arkeologis terhadap struktur makam yang dianggap paling utama.

Di balik kesunyian batu-batu tua yang berjajar rapi, Kompleks Makam La Tenri Ruwa menjadi pengingat bahwa Bantaeng pernah memainkan peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.
Situs ini bukan hanya warisan arkeologi, tetapi juga jejak perjalanan para pemimpin yang memilih mempertahankan keyakinan di tengah tekanan politik dan sosial pada zamannya.
Kini, keberadaan kompleks makam tersebut menjadi bagian penting dari identitas sejarah Bantaeng yang patut dijaga dan dilestarikan agar generasi mendatang tetap dapat mengenal akar sejarah daerahnya serta menghargai warisan budaya yang telah bertahan melintasi berabad-abad.












