BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG, 29 juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) berbasis limbah rumah tangga di Desa Kayu Loe, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Selasa (28/7/2026). Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja yang bertujuan mendukung ketahanan pangan sekaligus mendorong pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan di tingkat masyarakat.

Desa Kayu Loe yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani menghadapi sejumlah tantangan di sektor pertanian. Berdasarkan hasil observasi mahasiswa KKN, masyarakat mengeluhkan menurunnya tingkat kesuburan tanah, hasil panen yang berkurang pada musim kemarau, serta keterbatasan ketersediaan pupuk kimia. Di sisi lain, limbah organik rumah tangga masih belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki potensi untuk diolah menjadi pupuk organik cair yang bermanfaat bagi pertanian.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim menghadirkan pelatihan pembuatan pupuk organik cair sebagai solusi sederhana yang dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. Selain membantu mengurangi volume sampah organik, pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi POC diharapkan mampu memperbaiki kualitas tanah serta mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pentingnya menjaga kesehatan tanah. Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan bahwa penggunaan pupuk kimia tetap dapat dilakukan selama digunakan secara bijaksana dan diimbangi dengan pemberian bahan organik. Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam jangka panjang tanpa penambahan bahan organik dapat menurunkan kandungan bahan organik tanah, mengurangi populasi mikroorganisme yang berperan dalam penyediaan unsur hara, hingga menurunkan efisiensi pemupukan.
Selanjutnya, peserta mengikuti demonstrasi pembuatan pupuk organik cair menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti sisa buah dan sayuran, air cucian beras, molase, dan EM4. Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai proses fermentasi, teknik penggunaan, serta manfaat pupuk organik cair bagi pertumbuhan tanaman.

Penanggung jawab program kerja, Dea Pramudita, mengatakan bahwa pelatihan ini dirancang sebagai upaya memberikan solusi praktis bagi masyarakat melalui pemanfaatan limbah organik yang tersedia di sekitar rumah.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik rumah tangga memiliki nilai guna apabila dikelola dengan tepat. Selain membantu mengurangi sampah, pupuk organik cair juga dapat menjadi pelengkap penggunaan pupuk kimia sehingga kualitas tanah tetap terjaga dan produktivitas pertanian dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari masyarakat. Usmar, selaku perwakilan Karang Taruna Desa Kayu Loe, menilai pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru yang bermanfaat dan mudah diterapkan.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena tidak hanya mengajarkan cara mengolah sampah, tetapi juga memberikan solusi yang bisa langsung kami praktikkan. Harapannya, masyarakat dapat memanfaatkan limbah organik menjadi pupuk untuk tanaman sehingga sampah berkurang dan biaya pemupukan menjadi lebih hemat,” ungkapnya.
Program ini merupakan bagian dari KKN Tematik Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masyarakat Desa Kayu Loe mampu mengembangkan pengelolaan sampah organik secara mandiri sekaligus menerapkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan desa, meningkatkan kualitas lingkungan, serta menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.













