BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG, 11 Agustus 2026 — Sampah plastik yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan justru disulap menjadi media pembelajaran kreatif oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116. Melalui program “Ecokey: Pemanfaatan Tutup Botol Plastik Menjadi Gantungan Kunci”, siswa SD Inpres Sinoa, Kabupaten Bantaeng, diajak mengenal cara sederhana mengolah limbah menjadi barang yang bernilai guna.

Program kerja individu tersebut digagas oleh Moh. Aryansyah Rizqullah Daenunu, yang akrab disapa Arde, sebagai bentuk edukasi lingkungan berbasis kreativitas kepada siswa sekolah dasar. Kegiatan ini tidak hanya menekankan pemahaman mengenai bahaya sampah plastik, tetapi juga mendorong siswa untuk melihat limbah sebagai material yang masih dapat dimanfaatkan.
Dalam pelaksanaannya, para siswa mendapatkan edukasi mengenai dampak penumpukan sampah plastik terhadap lingkungan dan ekosistem. Materi tersebut kemudian diperkuat melalui praktik langsung dengan memanfaatkan tutup botol bekas sebagai bahan dasar pembuatan gantungan kunci.
Para peserta diajak mengikuti sejumlah tahapan, mulai dari memilah dan membersihkan tutup botol hingga mengolahnya menjadi gantungan kunci yang memiliki bentuk dan tampilan menarik. Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap tahapan dan menunjukkan rasa bangga ketika berhasil menghasilkan karya dari bahan yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.

Bagi mahasiswa KKN, pendekatan praktik dipilih agar edukasi lingkungan tidak berhenti pada penyampaian teori. Dengan terlibat langsung dalam proses pengolahan, siswa diharapkan dapat memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana di sekitar mereka.
“Tujuan dari Program Ecokey ini adalah menyuguhkan pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan sekaligus menanamkan karakter peduli lingkungan melalui prinsip 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle. Melalui program kerja individu ini, diharapkan semangat untuk memilah dan memanfaatkan kembali limbah plastik dapat terus diterapkan oleh para siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah masing-masing,” ujar Arde.
Pihak SD Inpres Sinoa dan jajaran guru turut menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Program Ecokey dinilai memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena menggabungkan edukasi lingkungan dengan aktivitas kreatif yang dapat dilakukan secara sederhana.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN Unhas dalam mendorong tumbuhnya kesadaran lingkungan sejak usia dini. Lebih dari sekadar membuat gantungan kunci, Ecokey menjadi upaya menanamkan kebiasaan bahwa sampah, khususnya plastik, tidak selalu berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Melalui kreativitas sederhana dari tutup botol bekas, siswa SD Inpres Sinoa diperkenalkan pada satu pesan penting: menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.













