Mohon Perhatian
Wartawan dan Crew Media Online BantaengNews.com tidak menerima imbalan apapun dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pewarta serta dalam menjalankan tugas-tugasnya dilindungi oleh Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999

Eco Garden Desa, Mahasiswa KKN Unhas Dorong Pemanfaatan Pekarangan melalui Vertical Garden Berkelanjutan

BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG, 9 Agustus 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) mendorong masyarakat Desa Bonto-Bontoa, Kabupaten Bantaeng, untuk mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan rumah melalui program kerja “Eco Garden Desa: Pemanfaatan Pekarangan dengan Vertical Garden Berkelanjutan.”

Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada Jumat, 31 Juli 2026, tersebut memperkenalkan konsep pemanfaatan lahan pekarangan secara produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah vertical garden dengan memanfaatkan botol plastik bekas sebagai media tanam.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa keterbatasan luas lahan bukan menjadi hambatan untuk menciptakan ruang hijau sekaligus menghasilkan tanaman yang bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga.

Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai konsep Eco Garden, yakni upaya mengoptimalkan pekarangan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. Mahasiswa menjelaskan bahwa pekarangan rumah dapat dikembangkan menjadi ruang produktif yang memberikan manfaat bagi keluarga sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih hijau dan bersih.

Materi kemudian dilanjutkan dengan pengenalan metode vertical garden. Teknik ini memungkinkan tanaman dibudidayakan secara vertikal menggunakan rak atau rangka sehingga dapat diterapkan pada pekarangan dengan luas terbatas.

Selain menghemat ruang, metode tersebut juga memiliki nilai ekologis karena dapat memanfaatkan botol plastik bekas sebagai wadah tanaman. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya tidak terpakai dapat digunakan kembali menjadi media yang memiliki nilai guna.

Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diperkenalkan dengan sejumlah tanaman yang dapat dibudidayakan menggunakan metode vertical garden, antara lain sawi, kangkung, selada, bayam, dan cabai.

Mahasiswa turut menjelaskan berbagai alat dan bahan yang diperlukan, seperti botol plastik bekas, rangka kayu, gunting, paku, palu, meteran, media tanam, serta benih tanaman.

Tahapan pembuatan vertical garden juga dipaparkan secara sistematis, mulai dari menyiapkan botol plastik, membuat lubang drainase, memasang botol pada rangka, memasukkan media tanam, menanam benih, hingga melakukan penyiraman dan perawatan secara rutin.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Masyarakat aktif mengikuti materi, mengajukan pertanyaan, serta berdiskusi mengenai kemungkinan penerapan vertical garden di pekarangan masing-masing.

Penanggung jawab program, Maylinda Ekaputri Rahmani, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman praktis kepada masyarakat bahwa pekarangan rumah yang terbatas tetap dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa memanfaatkan pekarangan tidak memerlukan lahan yang luas maupun biaya yang besar. Dengan memanfaatkan botol plastik bekas sebagai media tanam, setiap keluarga dapat menanam sayuran sendiri, mengurangi sampah plastik, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih hijau, bersih, dan produktif,” ujarnya.

Ia berharap penerapan Eco Garden tidak berhenti setelah program KKN selesai, tetapi dapat dilanjutkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.

“Harapannya, program ini tidak hanya berhenti pada saat pelaksanaan KKN, tetapi dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat sebagai kebiasaan yang berkelanjutan,” lanjutnya.

Sementara itu, salah seorang peserta, H. Syamsuddin, yang merupakan salah satu ketua kelompok tani di Desa Bonto-Bontoa, mengapresiasi sosialisasi tersebut. Menurutnya, kegiatan itu memberikan pengetahuan baru mengenai cara memanfaatkan pekarangan dengan metode yang relatif sederhana.

Ia juga mendorong agar tanaman yang dibudidayakan melalui vertical garden lebih diarahkan pada tanaman yang memiliki manfaat langsung bagi kebutuhan keluarga.

“Untuk tanaman yang ditanam di dalamnya sebaiknya diisi tanaman yang positif atau bermanfaat, seperti sayuran yang bisa dikonsumsi sehari-hari,” ujarnya.

Program Eco Garden Desa diharapkan dapat menjadi salah satu langkah sederhana dalam mendorong pemanfaatan pekarangan secara produktif, pengurangan limbah plastik melalui penggunaan kembali, serta pembentukan lingkungan permukiman yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Selain memberikan manfaat ekologis, pemanfaatan pekarangan melalui vertical garden juga berpotensi mendukung ketahanan pangan skala rumah tangga dengan menyediakan akses terhadap sayuran yang dapat dibudidayakan secara mandiri.