BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG — Perjalanan menuju Al-Qur’an tidak selalu dimulai dari tempat yang sama. Ada yang baru mengenal huruf hijaiyah dan mengikuti pembelajaran Dirosa, ada yang mulai lancar membaca Al-Qur’an, sementara sebagian lainnya telah melangkah lebih jauh dengan menghafal dan menyetorkan hafalannya dalam setiap pertemuan.
Namun, perbedaan tahapan belajar bukanlah alasan untuk saling membandingkan. Justru dari perbedaan itulah semangat untuk saling belajar, menguatkan, dan bertumbuh bersama menemukan maknanya.
Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan tarbiyah yang dibina Ustaz Hamzah Bin Abdul Muthalib di Masjid Wihdatul Umma, Sasayya, depan Rest Area, Kabupaten Bantaeng.
Dalam satu ruang pembinaan, peserta dengan kemampuan dan tahapan belajar yang berbeda duduk bersama. Ada yang masih berproses melalui Dirosa, ada yang telah memasuki pembelajaran Al-Qur’an, hingga peserta yang sudah memiliki hafalan dan rutin melakukan setoran.
Di situlah tarbiyah menemukan maknanya: tidak ada yang terlalu lambat untuk belajar dan tidak ada langkah yang terlalu kecil untuk dihargai.
Bagi seseorang yang telah lancar membaca Al-Qur’an, satu halaman mungkin terasa sederhana. Namun bagi mereka yang baru belajar, menyelesaikan satu halaman dapat menjadi sebuah pencapaian besar.
Begitu pula dengan satu ayat yang berhasil dibaca dengan benar atau satu ayat yang mampu dihafalkan dan disetorkan. Di baliknya terdapat kesungguhan, kesabaran, dan perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Muhtar, salah seorang peserta, mengatakan kelompok tarbiyah yang diikutinya masih merupakan kelompok yang sama seperti pertemuan sebelumnya. Hanya lokasi pertemuannya yang kali ini berpindah ke Masjid Wihdatul Umma.
“Masih kelompok yang sama seperti yang dikirim minggu lalu, cuma sekarang pertemuannya di masjid,” ujar Muhtar.
Menurutnya, dalam kelompok tersebut terdapat peserta dengan berbagai tahapan pembelajaran. Ada yang masih mengikuti Dirosa, ada yang sudah memasuki pembelajaran Al-Qur’an, dan ada pula yang telah memiliki hafalan serta rutin melakukan setoran pada setiap pertemuan.
Keberagaman tersebut menjadi gambaran bahwa proses belajar Al-Qur’an bukanlah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat sampai.
Setiap orang memiliki waktunya sendiri, tetapi semua memiliki kesempatan yang sama untuk terus melangkah.
Tarbiyah pun tidak berhenti pada kemampuan membaca atau menghafal Al-Qur’an. Ia menjadi ruang pembinaan untuk saling mengingatkan, memperbaiki diri, menjaga semangat, dan menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Sebab, menjadi baik bukanlah perubahan yang selalu terjadi dalam satu malam. Ada proses panjang yang membutuhkan kesabaran, lingkungan yang mendukung, serta kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Dari Masjid Wihdatul Umma, langkah-langkah kecil itu terus dirawat. Ada yang baru mulai membaca, ada yang sedang memperbaiki bacaan, dan ada yang sedang menjaga hafalan.
Berbeda tahap, tetapi berada dalam satu perjalanan: mendekat kepada Al-Qur’an dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, perjalanan menuju kebaikan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Yang paling berharga adalah mereka yang memilih untuk terus berjalan, meski langkahnya perlahan.
Dan setiap langkah menuju Al-Qur’an, sekecil apa pun itu, tetaplah sebuah langkah yang berharga.













