BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG, 7 Agustus 2026 – Limbah tongkol jagung yang selama ini kerap dibuang atau dibakar di Desa Bonto Rannu, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, kini diperkenalkan sebagai bahan baku energi alternatif. Melalui program kerja individu, Nur Asmi Jamal, mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Hasanuddin, menginisiasi pelatihan dan demonstrasi pembuatan “briket dari tongkol jagung” sebagai bagian dari kegiatan KKN-T Gelombang 116 Universitas Hasanuddin.

Kegiatan yang mengusung tema pertanian dan teknologi tepat guna ini bertujuan memberikan pemahaman sekaligus keterampilan praktis kepada masyarakat dalam mengolah limbah pertanian menjadi produk yang lebih bermanfaat. Program tersebut melibatkan pemerintah desa, kelompok tani, serta masyarakat Desa Bonto Rannu yang mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias.
Pemilihan tongkol jagung sebagai bahan baku didasarkan pada potensi limbah pertanian yang cukup melimpah di wilayah tersebut. Selama ini, tongkol jagung umumnya belum dimanfaatkan secara optimal dan sering kali hanya dibakar atau dibiarkan menumpuk. Kondisi tersebut mendorong Mahasiswa untuk memperkenalkan teknologi sederhana yang dapat mengubah limbah tersebut menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif sekaligus produk yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai biomassa dan potensi tongkol jagung sebagai bahan bakar alternatif. Selanjutnya, masyarakat diberikan demonstrasi mengenai tahapan pembuatan briket, mulai dari karbonisasi tongkol jagung, penghalusan arang, pencampuran dengan perekat, pencetakan, hingga proses pengeringan. Masyarakat juga diberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses pembuatan sehingga dapat memahami teknik pengolahan secara lebih aplikatif.
Antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan selama proses demonstrasi dan praktik. Salah seorang warga Desa Bonto Rannu mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan limbah pertanian yang sebelumnya belum banyak diperhatikan.
“Biasanya tongkol jagung hanya dibuang atau dibakar. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami mengetahui bahwa tongkol tersebut ternyata bisa diolah menjadi briket yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Kalau dikembangkan dengan baik, limbah yang sebelumnya tidak bernilai ini juga bisa menjadi hasil tambahan bagi masyarakat,” ungkap salah seorang warga Desa Bonto Rannu.
Program kerja ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan KKN, tetapi dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. Pengolahan tongkol jagung menjadi briket dinilai memiliki potensi untuk mengurangi limbah pertanian sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal.
Melalui program individu tersebut, Mahasiswa turut mendorong penerapan ilmu kimia dan teknologi tepat guna dalam menyelesaikan permasalahan sederhana yang ada di lingkungan masyarakat. Pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun pola pengelolaan limbah yang lebih produktif, inovatif, dan berkelanjutan di Desa Bonto Rannu.














