BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG, 31 juli 2026 – Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Eremerasa, Andi Kaimal Ahmad, kembali melanjutkan edukasi kepada petani mengenai teknik menghasilkan bibit durian unggul. Edukasi tersebut diberikan sebagai upaya meningkatkan kemampuan petani dalam memproduksi bibit berkualitas yang memiliki tingkat keberhasilan tumbuh tinggi, sehat, serta mampu menghasilkan tanaman durian yang produktif.
Dalam penyampaiannya, Andi Kaimal Ahmad menegaskan bahwa keberhasilan budidaya durian diawali dari proses pembibitan yang dilakukan sesuai standar. Menurutnya, penggunaan bibit unggul akan menentukan pertumbuhan tanaman, produktivitas buah, hingga umur ekonomis tanaman.
“Bibit merupakan investasi jangka panjang. Kesalahan pada tahap pembibitan akan berdampak terhadap pertumbuhan tanaman hingga puluhan tahun ke depan. Karena itu seluruh proses harus dilakukan sesuai kaidah teknis,” jelasnya.
Pemilihan Lokasi Pembibitan
Tahap pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan lokasi pembibitan. Menurut Andi Kaimal Ahmad, lokasi persemaian harus berada di lahan yang datar, mudah dijangkau, serta dekat dengan sumber air sehingga memudahkan penyiraman.
Lahan pembibitan terlebih dahulu diukur dan dibuatkan sketsa sesuai kebutuhan. Persemaian juga harus menggunakan naungan dengan intensitas cahaya sekitar 60 persen dan tinggi minimal 1,75 meter. Naungan dapat dibuat menggunakan daun kelapa maupun paranet.
Selain itu, dibuat bedengan dengan lebar sekitar 1–1,2 meter, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan jumlah bibit yang akan diproduksi. Seluruh aktivitas pembibitan wajib didokumentasikan melalui pencatatan asal pohon induk, nama varietas, tanggal perbanyakan, hingga jumlah bibit yang diproduksi untuk menjaga ketertelusuran mutu bibit.
Penyiapan Batang Bawah
Tahapan berikutnya adalah menyiapkan batang bawah. Ia menjelaskan bahwa biji sebaiknya berasal dari pohon induk yang memiliki perakaran kuat, tahan terhadap penyakit, dan memiliki pertumbuhan yang baik. Bahkan, apabila tersedia, batang bawah juga dapat berasal dari pohon induk unggul.
Biji dipilih dari buah yang benar-benar matang dan sehat. Pengambilan biji yang telah lama jatuh di tanah tidak dianjurkan karena berpotensi mengalami penurunan kualitas maupun terkontaminasi penyakit.
Sebelum disemai, biji dibersihkan dari sisa daging buah menggunakan serbuk gergaji atau koran agar tidak memicu pembusukan. Selanjutnya biji segera dikecambahkan pada polybag yang telah diisi media tanam berupa campuran tanah, bahan organik, maupun serbuk gergaji.
Bibit kemudian dipelihara melalui penyiraman setiap dua hingga tiga hari sesuai kondisi kelembapan media, dilakukan penyiangan gulma, pemupukan, serta pencatatan tanggal penyemaian dan jumlah bibit.
Pemilihan Batang Atas (Entres)
Andi Kaimal Ahmad menjelaskan bahwa keberhasilan penyambungan sangat ditentukan oleh kualitas batang atas atau entres. Oleh karena itu, entres harus berasal dari pohon induk unggul yang telah terbukti sehat, produktif, memiliki mutu buah yang baik, dan apabila memungkinkan berasal dari varietas yang telah didaftarkan serta bersertifikat.
Pengambilan entres sebaiknya dilakukan pada akhir musim kemarau agar tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Entres yang dipilih berasal dari pucuk berumur sekitar 40–60 hari, memiliki 6–8 helai daun dengan panjang sekitar 15–20 sentimeter. Setelah dipotong, entres harus segera dibawa ke lokasi persemaian untuk dilakukan penyambungan atau okulasi agar kesegarannya tetap terjaga.
Teknik Penyambungan (Grafting)
Pada proses penyambungan, batang bawah yang digunakan harus sehat dan berumur sekitar tiga hingga empat bulan setelah penyemaian.
Batang bawah dipotong pada ketinggian sekitar 20–30 sentimeter dari leher akar sesuai teknik sambung yang digunakan. Sementara itu, batang atas dipotong minimal lima sentimeter dari pucuk dan harus memiliki diameter yang sama dengan batang bawah.
Pangkal entres kemudian dibentuk mengikuti pola potongan batang bawah, lalu dimasukkan hingga kambium kedua batang bertemu secara sempurna. Sambungan selanjutnya diikat menggunakan plastik elastis dan disungkup dengan plastik transparan untuk menjaga kelembapan hingga muncul tunas baru.
Setelah sambungan tumbuh normal, sungkup dan ikatan dibuka. Seluruh kegiatan penyambungan juga perlu dicatat, termasuk tanggal pelaksanaan dan jumlah bibit yang berhasil disambung.
Hindari Perbedaan Diameter Batang
Dalam edukasinya, Andi Kaimal Ahmad mengingatkan agar petani tidak menyambungkan batang atas dan batang bawah yang memiliki ukuran berbeda.
Apabila diameter batang bawah lebih kecil dibandingkan entres, maka aliran air, unsur hara, dan hasil fotosintesis menjadi tidak lancar karena jaringan pengangkut tidak menyatu secara sempurna. Kondisi tersebut mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi lambat dan meningkatkan risiko gugur bunga maupun buah, terutama saat menghadapi musim kemarau panjang.
Teknik Okulasi
Selain grafting, petani juga diperkenalkan dengan teknik okulasi atau penempelan mata tunas.
Batang bawah yang digunakan harus sehat dengan diameter sekitar 1,2 sentimeter. Kulit batang kemudian disayat membentuk jendela okulasi pada ketinggian sekitar 20–25 sentimeter dari leher akar.
Mata tunas yang diambil dari entres kemudian dimasukkan ke dalam jendela tersebut dan diikat menggunakan plastik elastis dari arah bawah ke atas agar air tidak masuk ke luka okulasi.
Ikatan dibuka setelah tiga hingga empat minggu apabila mata tunas telah menyatu dengan batang bawah. Seluruh proses okulasi juga perlu dicatat untuk memudahkan evaluasi keberhasilan pembibitan.
Pemeliharaan Pembibitan
Setelah penyambungan atau okulasi berhasil, bibit memerlukan pemeliharaan secara intensif.
Perawatan dilakukan melalui penyiraman sesuai kelembapan media, penyiangan gulma secara berkala, pemupukan sesuai kebutuhan, pemantauan hama dan penyakit, serta pembuangan tunas liar yang tumbuh pada batang bawah.
Bibit yang pertumbuhannya kurang baik atau terserang penyakit harus segera dipisahkan agar tidak menular ke bibit lainnya. Apabila ukuran bibit semakin besar, polybag perlu diganti dengan ukuran yang lebih besar dan bibit dikelompokkan berdasarkan ukuran agar pertumbuhannya seragam.
Standar Bibit Durian Siap Tanam
Pada akhir penyuluhan, Andi Kaimal Ahmad menjelaskan bahwa bibit durian yang siap ditanam harus memenuhi standar mutu, yakni memiliki asal varietas yang jelas dan tercatat atau bersertifikat, diperbanyak melalui sambungan atau okulasi, memiliki tinggi sambungan sekitar 20–25 sentimeter atau tinggi penempelan 15–20 sentimeter, memiliki sedikitnya delapan helai daun, tinggi batang atas minimal 40 sentimeter, berumur sekitar enam bulan setelah proses sambung atau okulasi, serta berada dalam kondisi sehat, bugar, dan bebas dari penyakit, khususnya busuk akar.
Melalui edukasi teknis yang berkelanjutan ini, BPP Kecamatan Eremerasa berharap semakin banyak petani mampu memproduksi bibit durian unggul sesuai standar, sehingga dapat meningkatkan produktivitas kebun, menjaga kemurnian varietas, serta mendorong pengembangan komoditas durian unggulan yang berdaya saing di Kabupaten Bantaeng.
Ia juga mengungkapkan bahwa rangkaian edukasi kepada petani akan terus berlanjut. Pada sesi berikutnya, ia akan membahas secara lebih mendalam mengenai “TAHAPAN PENGELOLAAN KEBUN DURIAN”, mulai dari persiapan dan pengolahan lahan, teknik penanaman, pemupukan berimbang, pengairan, pemangkasan, pengendalian hama dan penyakit, hingga perawatan tanaman agar mampu tumbuh optimal dan menghasilkan buah dengan kualitas terbaik.
“Dengan memahami seluruh tahapan, mulai dari pembibitan hingga pengelolaan kebun, diharapkan petani tidak hanya mampu menghasilkan bibit durian unggul, tetapi juga mampu mengelola kebun secara profesional sehingga produktivitas dan pendapatan petani dapat terus meningkat,” tutup Andi Kaimal Ahmad.













