BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG – Komitmen untuk membangun sektor pertanian yang maju tidak hanya diwujudkan melalui pendampingan di lapangan, tetapi juga dengan meningkatkan wawasan petani. Berangkat dari semangat tersebut, Andi Kaimal Ahmad, selaku Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Eremerasa, kembali melanjutkan rangkaian edukasinya di kebun campur dengan mengangkat tema tantangan penyediaan bibit tanaman buah-buahan di Indonesia.
Menurut Andi Kaimal Ahmad, bibit merupakan fondasi utama dalam budidaya tanaman buah. Bibit yang berkualitas akan menghasilkan tanaman yang sehat, produktif, dan mampu memberikan hasil panen yang optimal. Sebaliknya, penggunaan bibit yang kurang baik dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, kualitas buah, hingga nilai ekonomi hasil panen.
Ia menjelaskan bahwa hingga kini sebagian besar bibit tanaman buah-buahan di Indonesia masih diperbanyak secara generatif atau menggunakan biji. Metode tersebut memang mudah diterapkan dan relatif murah, tetapi memiliki beberapa kelemahan. Bibit yang dihasilkan belum tentu memiliki sifat yang sama dengan tanaman induknya karena adanya variasi genetik. Selain itu, tanaman hasil perbanyakan melalui biji umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk memasuki masa produksi dibandingkan bibit hasil perbanyakan vegetatif.
“Petani perlu memahami bahwa memilih bibit bukan sekadar awal menanam, tetapi merupakan awal menentukan keberhasilan panen di masa depan. Semakin baik kualitas bibit, semakin besar peluang memperoleh hasil yang berkualitas,” ujar Andi Kaimal Ahmad.
Sebagai solusi, ia memperkenalkan teknik perbanyakan vegetatif seperti penyambungan (grafting), okulasi, cangkok, dan susuan. Teknik-teknik tersebut memungkinkan bibit mewarisi sifat unggul dari tanaman induk, lebih cepat berbuah, menghasilkan buah yang seragam, dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Namun, menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya pada ketersediaan teknologi, melainkan pada pemerataan pengetahuan. Masih banyak petani yang belum mengenal atau belum percaya diri mempraktikkan teknik perbanyakan vegetatif. Karena itu, peran penyuluh pertanian menjadi penting sebagai jembatan antara perkembangan ilmu pengetahuan dengan praktik budidaya di lapangan.
Andi Kaimal Ahmad menegaskan bahwa petani yang terus belajar akan lebih siap menghadapi perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tanaman, serta tuntutan pasar yang semakin mengutamakan kualitas. Kemampuan menghasilkan bibit unggul secara mandiri juga dapat mengurangi biaya produksi dan membuka peluang usaha baru di bidang pembibitan.
“Ilmu pertanian terus berkembang. Karena itu, petani juga harus terus berkembang. Jangan pernah berhenti belajar, sebab setiap pengetahuan yang diterapkan di kebun akan menjadi investasi untuk masa depan. Bibit unggul yang ditanam hari ini bukan hanya menghasilkan buah, tetapi juga melahirkan harapan, meningkatkan kesejahteraan keluarga petani, dan memperkuat ketahanan pangan bangsa,” tuturnya.
Melalui edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan, BPP Eremerasa berharap semakin banyak petani yang terdorong untuk menguasai teknologi perbanyakan bibit, memanfaatkan potensi kebun campur secara optimal, serta membangun pertanian yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing. Sebab, kemajuan pertanian Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemauan petani untuk terus belajar, berinovasi, dan berbagi pengetahuan demi masa depan yang lebih baik.
Andi Kaimal Ahmad mengatakan, pada edukasi selanjutnya dirinya akan membahas lebih mendalam mengenai asal-usul tanaman durian serta mengenali ciri-ciri buah durian unggul yang memiliki kualitas baik.
“Edukasi ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat, khususnya para petani, dalam memahami potensi dan pengembangan budidaya durian,” ujarnya menutup penyampaiannya.













