BANTAENGNEWS.COM – Bantaeng, 6 juli 2026 — Nasrun yang akrab disapa Daeng Accung, merupakan salah satu Ketua Kelompok Tani Hamparan Erasayya, Dusun Erasayya, Desa Biangkeke, Kecamatan Pa’jukukang, Kabupaten Bantaeng.

Berawal dari seorang petani di wilayah yang dikenal tandus di Dusun Erasayya, Daeng Accung perlahan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang. Ia dikenal memiliki berbagai terobosan dalam bidang pertanian yang terus ia kembangkan dari waktu ke waktu.
Dari hasil usaha pertanian tersebut, pada tahun 2011 Daeng Accung mulai mengembangkan usaha lain dengan memelihara ternak sapi. Usaha ini kemudian menjadi titik balik penting dalam perjalanan ekonominya.

“Dari usaha ternak sapi itu boleh dikata sukses, berawal dari dua ekor menjadi puluhan ekor, dan terakhir tahun 2025 pernah mencapai 17 ekor,” ungkapnya.
Saat ini, jumlah ternak sapi yang dimilikinya tersisa 6 ekor induk. Hal tersebut terjadi karena sebagian ternak telah dijual untuk membeli sawah sebagai bentuk pengembangan aset jangka panjang.
Menurut Daeng Accung, kunci menuju keberhasilan dalam usaha tani dan ternak adalah semangat, ketekunan, serta konsistensi dalam bekerja.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran penyuluh peternakan yang sejak awal turut mendampingi para peternak di lapangan. Penyuluh tersebut dikenal dengan istilah tugas “INSEMINATOR”, yakni tenaga yang berperan dalam membantu penyelamatan sapi yang akan melahirkan serta penanganan kondisi darurat pada proses kelahiran ternak.
Seiring waktu, Daeng Accung mengaku kini telah memiliki kemampuan dalam menangani kondisi sapi yang hendak melahirkan, berkat pengalaman dan pendampingan yang pernah ia terima.
Saat ditanya oleh awak media mengenai kendala pada proses kelahiran sapi, ia menjelaskan bahwa terdapat kondisi tertentu yang berisiko tinggi bagi induk maupun anak sapi.

“Kalau kita lihat posisi anak sapi keluar dengan pantat terlebih dahulu, itu bisa menjadi kendala besar dan berisiko,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut dalam istilah peternakan dikenal sebagai sungsang kaki belakang (posterior presentation), yaitu posisi kelahiran yang tidak normal dan termasuk distosia atau kesulitan melahirkan.
Risikonya, menurut dia, dapat terjadi pada anak sapi maupun induknya. Pada anak sapi dapat terjadi kehabisan napas, mati lemas, patah kaki atau pinggul, serta cedera saraf. Sementara pada induk sapi dapat terjadi robekan jalan lahir, rahim pecah, pendarahan hebat, kelelahan berat, hingga rahim turun.

Dalam pengalamannya, Daeng Accung juga menyampaikan bahwa penanganan kondisi tersebut dapat dilakukan secara cepat dan hati-hati berdasarkan pengalamannya, yakni dengan mendorong posisi anak sapi kembali secara perlahan kedalam perut induk sapi, kemudian mencari posisi kaki lalu diikat untuk selanjutnya dilakukan penarikan secara terkontrol.
Di akhir keterangannya, Daeng Accung menegaskan bahwa pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi para peternak agar selalu sigap, teliti, dan memahami kondisi ternak, khususnya pada saat proses kelahiran.
“Itu salah satu kendala bagi peternak sapi yang harus diketahui dan bisa dilakukan secara hati-hati,” pungkasnya.













