BANTAENGNEWS.COM | BANTAENG, 6 Juli 2026 – Setelah dua hari menjadi sorotan publik akibat dinilai lambat merespons konfirmasi media, Direktur Utama Perseroda Kabupaten Bantaeng, Muh. Iqbal Noor, akhirnya menyampaikan penjelasannya. Dalam komunikasi melalui WhatsApp, ia memaparkan alasan keterlambatan memberikan tanggapan sekaligus menyampaikan langkah yang akan ditempuh Perseroda untuk membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Iqbal menjelaskan bahwa selama dua hari terakhir dirinya berada di Jakarta untuk menjalankan agenda perusahaan berupa presentasi di hadapan calon mitra kerja sama Perseroda. Menurutnya, padatnya agenda tersebut menjadi penyebab dirinya belum sempat merespons konfirmasi dari awak media.
“Sorry bro.. 2 hari sy full presentasi dengan calon mitra kerjasama Perseroda di JKT. Sy baru ke Makassar tgl 7,” tulis Iqbal.”
Ia menambahkan bahwa untuk sementara seluruh komunikasi resmi terkait Perseroda akan dipusatkan melalui Humas perusahaan agar penyampaian informasi kepada publik berjalan melalui satu pintu.
“Untuk saat ini komunikasi terkait Perseroda ke humas kami dulu yah,” lanjutnya”.
Lebih jauh, Iqbal mengungkapkan bahwa sejak awal pihaknya memang telah merancang pertemuan bersama organisasi kepemudaan (OKP), LSM, dan insan pers dalam suasana diskusi santai. Menurutnya, forum tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi menjadi ruang untuk menerima kritik, masukan, sekaligus membangun kolaborasi dalam pengembangan usaha Perseroda.
“Kami memang sudah berencana mengundang teman-teman OKP, LSM, jurnalis untuk ngopi bareng Perseroda, diskusi santai meminta saran, masukan serta persiapan kolaborasi bisnis bersama. Sementara diatur waktunya.”
Iqbal mengatakan forum tersebut direncanakan digelar setelah dirinya kembali dari luar daerah.
“Setelah tgl 8 lah… pokoknya minggu ini. Bagusnya Jumat sore kayaknya biar bisa diskusi lama.”
Menurutnya, sebelum memberikan penjelasan lebih jauh mengenai berbagai isu yang berkembang, ia ingin terlebih dahulu mendengar langsung pandangan dan aspirasi dari berbagai pihak.
“Sy juga mau dengar langsung dari kita semua. Di luar radar ku kalau secara pribadi.”
Di akhir percakapan, Iqbal berharap seluruh pihak dapat memberikan kesempatan agar pertemuan tersebut terlaksana sehingga komunikasi dapat berlangsung secara terbuka dan konstruktif.
“Saya juga minta tolong… ini tenggat waktunya sampai setelah kita ketemu dulu bro. Bisaji toh.”
Namun, ajakan tersebut belum mendapat respons positif dari Ketua Pemuda LIRA Bantaeng, Andi Yusdanar Hakim. Ia menegaskan belum akan membuka ruang komunikasi sebelum dilakukan evaluasi terhadap sejumlah pihak di internal Perseroda, termasuk Supriadi Malik.
Andi yusdanar juga menyatakan akan membawa persoalan tersebut ke DPRD Kabupaten Bantaeng melalui mekanisme Rapat Dengar Pendapat (RDP) apabila dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret dari pihak Perseroda.
Di tengah upaya membangun komunikasi tersebut, polemik justru melebar setelah Humas Perseroda, Aidil Akbar, mengakui bahwa pernyataannya mengenai sisa saldo kas perusahaan yang disebut hanya Rp500 ribu saat masa transisi direksi merupakan asumsi pribadi dan bukan keterangan resmi perusahaan.
Aidil menegaskan pernyataan itu muncul dalam percakapan informal dan tidak dimaksudkan sebagai informasi resmi Perseroda.
Namun, pernyataan tersebut kemudian dibantah secara tegas oleh mantan Direktur PT Bantaeng Sinergi Cemerlang (BASIC), Tony Pahlevi.
“Tidak benar,” tegas Tony Pahlevi kepada awak media, Senin (6/7/2026)”.
Perbedaan keterangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kondisi keuangan Perseroda saat proses pergantian kepemimpinan. Hingga kini belum ada dokumen resmi yang dipublikasikan kepada masyarakat terkait posisi kas perusahaan pada saat serah terima direksi.
Aktivis Bantaeng, Putra, menilai polemik tersebut seharusnya dapat diselesaikan secara terbuka melalui penyampaian dokumen resmi, seperti berita acara serah terima jabatan, laporan posisi kas, neraca perusahaan, dan laporan keuangan pada masa transisi.
Menurutnya, keterbukaan dokumen merupakan langkah penting untuk memberikan kepastian informasi kepada publik sekaligus mengakhiri spekulasi yang terus berkembang mengenai kondisi Perseroda.
Dengan berkembangnya berbagai pernyataan dari sejumlah pihak, perhatian publik kini tidak hanya tertuju pada pola komunikasi Perseroda, tetapi juga pada tuntutan transparansi data dan akuntabilitas informasi yang menjadi dasar setiap pernyataan yang disampaikan kepada masyarakat.













