Mohon Perhatian
Wartawan dan Crew Media Online BantaengNews.com tidak menerima imbalan apapun dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pewarta serta dalam menjalankan tugas-tugasnya dilindungi oleh Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999

PENAS XVII DI GORONTALO, KONTINGEN BANTAENG PROMOSIKAN KOMODITAS UNGGULAN DAN PERKUAT DUKUNGAN TERHADAP KETAHANAN PANGAN NASIONAL

BANTAENGNES.COM – Gorontalo – Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan ke-XVII resmi dibuka di Gelanggang Olahraga (GOR) David-Tony, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan nasional yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan di sektor pertanian, perikanan, dan ketahanan pangan, sekaligus menjadi sarana pertukaran pengetahuan, inovasi, teknologi, serta pengembangan jejaring usaha bagi petani dan nelayan dari seluruh Indonesia.

PENAS XVII dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, dan diikuti sekitar 30.000 peserta dari 28 provinsi. Kegiatan yang berlangsung hingga 25 Juni 2026 tersebut menghadirkan berbagai agenda, mulai dari pameran hasil pertanian, peternakan, dan perikanan, demonstrasi teknologi modern, temu bisnis, seminar dan diskusi pembangunan sektor pangan, hingga pertunjukan seni dan budaya yang merepresentasikan keberagaman Indonesia.

Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, turut berpartisipasi dalam kegiatan berskala nasional tersebut dengan menampilkan sejumlah komoditas unggulan yang selama ini menjadi penggerak utama sektor pertanian dan perikanan daerah. Kehadiran kontingen Bantaeng dipimpin oleh Kepala Bidang Pertanian Kabupaten Bantaeng, Achmad Natsir, S.Sos. MM, bersama Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, Mahyuddin, S.STP, M.Si, serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bantaeng, ir. Rahmaniar. Ikut serta Kabid Peternakan H. Kasman, SP, M.Si

Dalam ajang tersebut, Kabupaten Bantaeng memperkenalkan berbagai komoditas unggulan yang memiliki nilai strategis bagi pembangunan pertanian daerah, di antaranya bawang merah Lokana, jagung JAGO, kakao, kentang, nenas, kopi Garumbang, stek akar kentang G0 (Generasi Nol), serta beras Bromo. Selain komoditas primer, Bantaeng juga menampilkan beragam produk hilirisasi berbasis rumput laut, seperti dodol, selai, dan keripik rumput laut yang memiliki nilai tambah ekonomi dan prospek pasar yang menjanjikan.

Kepala Bidang Pertanian Kabupaten Bantaeng, Achmad Natsir, S.Sos. MM, menjelaskan bahwa komoditas yang dipamerkan merupakan representasi dari potensi unggulan daerah yang telah berkembang melalui dukungan inovasi, pendampingan teknis, dan penguatan kapasitas petani. Menurutnya, pengembangan sektor pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada peningkatan kualitas, nilai tambah produk, dan daya saing di pasar yang lebih luas.

“Keikutsertaan Kabupaten Bantaeng dalam PENAS XVII merupakan bagian dari upaya memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat nasional sekaligus membuka peluang kemitraan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sektor pertanian dan perikanan. Produk yang kami tampilkan merupakan hasil kerja keras petani dan pelaku usaha yang terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa PENAS menjadi media pembelajaran yang sangat penting bagi daerah dalam menyerap berbagai inovasi dan teknologi pertanian modern yang berkembang di Indonesia. Melalui interaksi dengan peserta dari berbagai provinsi, diharapkan tercipta pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang dapat memperkuat pembangunan pertanian berbasis inovasi dan keberlanjutan.

Dalam sambutannya saat membuka kegiatan, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama pembangunan nasional yang harus terus diperkuat di tengah berbagai tantangan global, termasuk perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi dunia, dan dinamika geopolitik internasional.

Menurutnya, Indonesia harus mampu membangun sistem pangan yang tangguh melalui peningkatan produktivitas, pemanfaatan teknologi pertanian modern, perbaikan tata kelola sektor pertanian dan perikanan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Ia juga mengajak petani dan nelayan untuk terus meningkatkan inovasi dan produktivitas guna mendukung terwujudnya kemandirian pangan nasional.

“Ketahanan pangan bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga menyangkut kedaulatan bangsa. Karena itu, kita harus terus memperkuat sektor pertanian dan perikanan agar mampu memenuhi kebutuhan nasional secara mandiri dan berkelanjutan,” tegas Gibran.

Partisipasi Kabupaten Bantaeng dalam PENAS XVII mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung agenda ketahanan pangan nasional sekaligus memperluas akses promosi dan pemasaran bagi komoditas unggulan daerah. Kegiatan ini juga diharapkan mampu membuka peluang investasi, memperkuat kemitraan usaha, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan melalui pengembangan rantai nilai pertanian dan perikanan yang lebih kompetitif.

Lebih dari sekadar ajang pameran, PENAS XVII menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi, inovasi, dan transformasi sektor pertanian menuju sistem pangan yang modern, produktif, dan berkelanjutan. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan ini, Kabupaten Bantaeng menunjukkan kesiapannya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan pertanian dan perikanan nasional serta mendukung terwujudnya ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia di masa depan.