BANTAENGNEWS.COM – BANTAENG — Sektor pertanian Kabupaten Bantaeng tetap mencatat pertumbuhan positif sebesar 1,97 persen di tengah tekanan kondisi iklim dan penurunan produksi sejumlah komoditas utama pada Triwulan II 2026. Sabtu, 19 September 2026
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bantaeng, sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 25,13 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bantaeng.
Meski masih tumbuh positif, produksi sejumlah tanaman pangan mengalami penurunan. Ketua Tim Statistik Produksi BPS Kabupaten Bantaeng, Hikmawati, menyebut produksi padi turun sekitar 26 persen, sejalan dengan berkurangnya luas panen. Sementara produksi jagung mengalami penurunan sekitar 42 persen.
Kondisi berbeda terjadi pada sejumlah komoditas hortikultura. Produksi cabai besar dan cabai keriting tercatat meningkat lebih dari 50 persen. Di sisi lain, produksi bawang merah, cabai rawit, dan kentang mengalami penurunan.
“Penurunan produksi komoditas pertanian ini disebabkan oleh fenomena El Nino yang telah mulai terjadi pada triwulan II 2026,” kata Hikmawati.
Kemarau Pengaruhi Waktu Tanam
Tekanan terhadap sektor pertanian tersebut berlangsung di tengah perubahan iklim dan berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah pertanian.
Berdasarkan laporan BMKG Sulawesi Selatan, curah hujan pada periode Mei hingga Juli 2026 diprediksi berangsur menurun. Awal musim kemarau di Bantaeng diperkirakan terjadi pada Juli, dengan periode puncak pada Agustus hingga September 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, Mahyuddin, mengatakan ketersediaan air turut memengaruhi waktu tanam dan panen, terutama pada tanaman pangan.
“Pertanian kita tetap tumbuh 1,97 persen dan memberikan kontribusi 25,13 persen terhadap PDRB Bantaeng. Namun kita juga menghadapi penurunan produksi padi dan jagung. Salah satu kondisi yang kita hadapi adalah berkurangnya ketersediaan air pada sejumlah wilayah pertanian,” ungkapnya.
Menurut Mahyuddin, dampak kekeringan tidak sama di setiap wilayah. Lahan yang masih memiliki sumber air relatif dapat mempertahankan kegiatan budidaya, sedangkan lahan yang bergantung pada curah hujan menghadapi tekanan yang lebih besar.
Pola Tanam Mulai Bergeser
Dinas Pertanian juga mencermati adanya perubahan pola tanam di sebagian areal pertanian, termasuk pergeseran dari tanaman pangan ke hortikultura.
Indikasinya terlihat dari penurunan produksi padi dan jagung, sementara produksi cabai besar dan cabai keriting justru meningkat lebih dari 50 persen.
“Petani menyesuaikan kegiatan budidayanya dengan kondisi air, musim dan komoditas yang memungkinkan dikembangkan. Tetapi produksi tanaman pangan, khususnya padi dan jagung, tetap harus kita jaga,” kata Mahyuddin.
Percepatan Tanam dan Penggunaan Varietas Genjah
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pertanian melakukan pemetaan wilayah berdasarkan sumber air, luas tanam dan luas panen.
Pada wilayah yang masih memiliki ketersediaan air, petani didorong melakukan percepatan tanam, menggunakan varietas genjah, serta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim.
Sementara pada wilayah dengan ketersediaan air terbatas, penanaman diarahkan agar tidak dipaksakan apabila berisiko mengalami kekeringan sebelum masa panen.
Dinas Pertanian juga memperkuat pendampingan penyuluh, pengendalian organisme pengganggu tanaman, penyediaan benih unggul bersertifikat, serta identifikasi wilayah yang menjadi penyumbang penurunan produksi padi dan jagung.
Untuk musim tanam berikutnya, penguatan diarahkan pada produksi benih lokal melalui penangkar dan UPT Balai Benih Tanaman Pangan (BBTP), peningkatan produktivitas sentra padi dan jagung, sinkronisasi pola tanam dengan ketersediaan air, serta penguatan sarana produksi, mekanisasi dan pascapanen.
“Yang kita jaga bukan hanya bagaimana petani bisa menanam, tetapi bagaimana mereka menanam pada waktu yang tepat, dengan komoditas yang tepat dan dukungan yang tepat. Produksi tanaman pangan harus kita amankan, produktivitas kita tingkatkan, dan kesejahteraan petani tetap menjadi tujuan utama,” pungkas Mahyuddin.













